ANALISIS NILAI BUDAYA BABAD BANYUURIP DAN RELEVANSINYA SEBAGAI BAHAN PEMBELAJARAN SASTRA DI KELAS X SMA
No Thumbnail Available
Date
2015-07-14
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Prodi. PBSI, FKIP, Universitas Muhammadiyah Purworejo
Abstract
Junitasari, Elia. “Analisis Nilai Budaya Babad Banyuurip dan Relevansinya
sebagai Bahan Pembelajaran Sastra di Kelas X SMA”. Skripsi. Pendidikan Bahasa
dan Sastra Indonesia. Universitas Muhammadiyah Purworejo. 2015.
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: (1) wujud nilai budaya
yang terkandung dalam Babad Banyuurip di Kabupaten Purworejo, (2) hubungan
antarunsur wujud nilai budaya Babad Banyuurip, dan (3) relevansi hasil analisis
wujud nilai budaya Babad Banyuurip sebagai bahan pembelajaran sastra di kelas
X SMA.
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif. Objek penelitian ini adalah
analisis nilai budaya Babad Banyuurip yang dituturkan oleh masyarakat Desa
Banyuurip dan buku Serat Babad Banyuurip karya R.H. Oteng Suherman. Fokus
penelitian ini adalah nilai-nilai budaya Babad Banyuurip sebagai bahan
pembelajaran sastra di kelas X SMA. Sumber data dalam penelitian ini diperoleh
dari sumber data primer dan sumber data sekunder. Instrumen penelitian ini
adalah penulis sebagai peneliti. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini
adalah pengamatan, wawancara, dan dokumen sebagai pelengkap. Analisis data
dilakukan dengan teknik analisis model interaktif meliputi tiga komponen yaitu
reduksi data, penyajian data, dan penarikan simpulan. Dalam penyajian hasil
analisis, penulis menggunakan teknik penyajian informal.
Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah: (1) wujud nilai budaya
yang terkandung dalam Babad Banyuurip, yaitu: (a) peralatan kehidupan manusia:
balai pasewakan keraton, kuda hitam, keris, kandang besi, rakit batang pisang,
dan bara/alat penangkap ikan; (b) mata pencaharian: petani, pencari ikan, dan
pande besi; (c) sistem kemasyarakatan: subsistem sosial, subsistem kekerabatan
dan hukum, subsistem kekerabatan, subsistem politik, subsistem kekerabatan dan
sosial; (d) sistem bahasa dan sastra (kisah cerita legenda terjadinya nama-nama
desa seperti Desa Banyuurip, Pagak, Jatiprobo, Besuki, Ngadimerta, Krumpyung,
Bathang, Candi, Kedhungdawa, Liwung, dan Bara); (e) kesenian: gamelan; (f)
sistem pengetahuan: sistem pengetahuan sosial, kesehatan, kepercayaan, dan
peralatan; (g) sistem religi: bertapa, bersamadi, penggunaan aji-aji dan keris; (2)
hubungan antarunsur terjalin erat, sehingga membentuk satu kesatuan cerita yang
padu; (3) cerita Babad Banyuurip dapat direlevansikan sebagai bahan
pembelajaran sastra di kelas X SMA karena di dalamnya dapat memberikan pesan
nilai kehidupan dalam bermasyarakat bagi siswa.
Kata kunci: Nilai budaya, Babad Banyuurip, Bahan pembelajaran sastra.