Citra Wanita Tokoh Utama Novel 5 Kelopak Mawar Berbisa karya Ria Jumriati dan Skenario Pembelajarannya di SMA

No Thumbnail Available
Date
2015-03-10
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Program Studi Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Purworejo
Abstract
Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsi: unsur-unsur instrinsik, citra tokoh utama, penerapan kritik sastra feminis ideologis, dan skenario pembelajaran novel 5 Kelopak Mawar Berbisa di SMA. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan metode analisis isi. Subjek penelitian ini adalah novel 5 Kelopak Mawar Berbisa Karya Ria Jumriati. Objek penelitian ini adalah Citra Wanita. Fokus penelitian ini berupa unsur intrinsik, citra wanita, sastra feminisme, dan skenario pembelajarannya di SMA. Sumber data dalam penelitian ini berupa novel 5 Kelopak Mawar Berbisa karya Ria Jumriati. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik pustaka. Instrumen penelitiannya adalah peneliti sendiri sebagai pelaksana penelitian dan dibantu dengan kartu data. Teknik analisis yang digunakan yakni teknik analisis isi. Teknik untuk menyajikan hasil analisisnya adalah teknik penyajian informal. Dari hasil penelitian, disimpulkan bahwa unsur-unsur intrinsik yang terdapat dalam novel tersebut meliputi tema, yakni penderitaan seorang wanita yang dijadikan Jugun Lanfu tentara Jepang. Alur yang digunakan yakni alur maju. Latarnya meliputi latar tempat berupa Danau, Sungai, Bordir Militer, Kamar Tentara Jepang, Kebun Singkong, Pasar, Kota, dan Sebuah Pabrik. Latar waktu yakni, tahun 1942, 6 dan 9 agustus 1945, malam hari, dan siang hari. Latar sosial yakni kodrat seorang perempuan dan perempuan tertindas. Penokohannya yaitu watak tokoh Mbok Sagiyem, Marni, Rumijah, Hana Motokura yang penuh kasih sayang, selain itu tokoh Mbok Sagiyem juga memiliki rasa putus asa, Winarsih pendendam, dan Hana Motokura yang penuh kebimbangan. Amanatnya adalah hidup ini sebuah ujian yang membutuhkan penyelesaian panjang, kesabaran, dan ketabahan untuk menghadapinya. Sudut pandang dalam novel yakni orang ketiga serba tahu. Gaya bahasa yang digunakan yakni; metafora ditunjukkan dengan kata (bunga desa), antonomasia pada kata (mata sipit dan jemari mungil), perumpamaan pada kata (ibarat musim semi dan seperti permadani), berikutnya personifikasi pada kata (mengiris dan menebar). Citra diri tokoh utama novel tersebut meliputi aspek fisik yaitu wanita tua, dan perempuan berparas cantik; aspek psikisnya meliputi tekanan batin, pendendam, rasa putus asa dan penuh kasih sayang. Feminisme tokoh dalam novel tersebut meliputi rasa kasih sayang, pandai meracik jamu, dan berwatak keras. Pembelajaran novel ini dilaksanakan dengan model pembelajaran CTL (Contextual Teaching and Learning). Berikut langkah-langkah pembelajarannya: (a) peserta didik dikelompokan menjadi empat anggota tim disesuaikan subtopik yang dibahas; (b) setiap kelompok diberi materi berupa sinopsis novel tersebut untuk mendiskusikannya; (c) setiap kelompok mempresentasikan hasil diskusi, dan kelompok lain menanggapinya; (d) setelah selesai, pendidik memberi simpulan dan mempersilahkan peserta didik untuk menanyakan tentang materi yang dirasa belum jelas.
Description
Keywords
Citation