Kajian Ginokritik Novel Lotus In The Mud karya Annelie serta Relevansinya Sebagai Bahan Ajar di SMA
No Thumbnail Available
Date
2026-03-02
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Pendidikan Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Purworejo
Abstract
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan 1) Kajian
Ginokritik Novel Lotus In The Mud karyaAnnelie dan 2) relevansinya sebagai
bahan ajar sastra di SMA. Penelitian ini menggunakan pendekatan ginokritik
dengan metode deskriptif kualitatif. Sumber data utama berupa kutipan teks naratif
dalam novel yang merepresentasikan empat aspek kajian ginokritik, sedangkan data
sekunder diperoleh dari jurnal ilmiah, dan penelitian terdahulu. Teknik
pengumpulan data dilakukan dengan metode studi pustaka dan pencatatan,
kemudian dianalisis menggunakan model analisis isi dengan tahapan reduksi,
klasifikasi, interpretasi, dan penarikan simpulan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa novel Lotus in the Mud karya Annelie
1) merepresentasikan pengalaman perempuan secara menyeluruh melalui empat
aspek utama ginokritik. (a) Biologis perempuan ditunjukkan melalui 5 kutipan
(14,7%) yang menggambarkan kondisi fisik, luka dan gesture. (b) Psikologis
perempuan ditunjukkan melalui 5 kutipan (14,7%) yang di gambarkan melalui
kondisi batin seperti perasaan sedih, emosi dan takut. (c) Budaya perempuan
ditemukan dalam 4 kutipan (11,8%) yang menggambarkan nilai-nilai, hubunganhubungan dan metode komunikasi. (d) Bahasa perempuan menjadi aspek paling
kompleks, mencakup empat bentuk ekspresi yaitu: bahasa tersurat 5 kutipan
(11,9%), bahasa tersirat 5 kutipan (11,9%), ekspresi tubuh perempuan 5 kutipan
(11,9%), dan bahasa multivokal 5 kutipan (11,9%). Keempat bentuk bahasa
perempuan tersebut menunjukkan bagaimana perempuan mengekspresikan
pengalaman batin, solidaritas, dan kekuatan melalui simbol serta ekspresi
nonverbal. Secara keseluruhan, novel Lotus in the Mud menampilkan representasi
perempuan yang kuat, mandiri, dan reflektif terhadap realitas sosialnya.
Selanjutnya, 2) relevansi tinggi sebagai bahan ajar sastra di SMA, yang dapat
menumbuhkan empati, pemahaman kesetaraan gender, serta meningkatkan
kemampuan literasi dan berpikir kritis peserta didik terhadap karya sastra
perempuan