Kajian Makna Konotatif dan Denotatif pada Lagu Ndarboy Genk

No Thumbnail Available
Date
2025-12-11
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa Fakultas Pendidikan Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Purworejo
Abstract
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kekayaan makna yang terdapat dalam lirik lagu Ndarboy Genk yang menggunakan bahasa Jawa sebagai media ungkap baik secara denotatif maupun konotatif, serta kuatnya representasi nilai-nilai sosial dan budaya masyarakat Jawa yang diwujudkan melalui pilihan diksi dan gaya Bahasa. Lirik lagu tidak hanya berfungsi sebagai sarana hiburan, tetapi juga sebagai media penyampai pesan emosional, sosial, dan budaya. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan makna denotatif dan konotatif dalam lirik lagu Ndarboy Genk pada lagu Balungan Kere, Koyo Jogja Istimewa, Ojo Nangis, Anak Lanang, dan Lanang Tenan. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif. Data penelitian berupa lirik lagu yang mengandung makna denotatif dan konotatif. Sumber data diperoleh dari lima lagu karya Ndarboy Genk. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik pustaka, baca, dan catat. Analisis data menggunakan metode analisis isi dengan pendekatan semantik. Teknik penyajian hasil analisis menggunakan metode informal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 116 data yang dianalisis, terdapat 29 data bermakna denotatif dan 87 data bermakna konotatif. Makna denotatif umumnya digunakan untuk menggambarkan aktivitas dan realitas kehidupan secara langsung, seperti pada larik “Aku kerja esuk sore”, “Biyen omahku gedhek”, dan “Trocoh yen udan bledek”. Sebaliknya, makna konotatif lebih dominan dan berfungsi untuk menyampaikan perasaan, konflik batin, kritik sosial, serta pesan moral. Contohnya pada larik “Tresnaku mbok sepelekke” yang menyiratkan kekecewaan dan luka batin. Makna konotatif diperkuat melalui penggunaan berbagai majas, antara lain metafora, simile, hiperbola, ironi, litotes, personifikasi, antitesis, serta simbol budaya. Metafora tampak pada ungkapan “balungan kere” dan “abote donya”, simile terdapat pada larik “mangan tempe rasane kaya mangan lawuh sate”, hiperbola pada ungkapan “ati wis bubrah”, serta simbol budaya pada penggunaan janur melengkung, Arjuna, dan Jogja. Secara keseluruhan, lirik lagu Ndarboy Genk merepresentasikan nilai-nilai budaya Jawa seperti kerja keras, kesederhanaan, kesabaran, religiusitas, unggah-ungguh, dan pandangan tentang peran laki-laki dalam keluarga, misalnya pada larik “anak lanang kudu isa nyangga abote donya”. Penelitian ini membuktikan bahwa lirik lagu Ndarboy Genk mengandung kekayaan makna linguistik dan nilai budaya yang layak dikaji secara akademis.
Description
Keywords
Citation