ajian Bentuk dan Makna Simbolik Tradisi Palakiyah di Desa Watulawang, Kecamatan Pejagoan Kabupaten Kebumen
No Thumbnail Available
Date
2023-08-07
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
ROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA JAWA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PURWOREJO
Abstract
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: (1) bentuk pelaksanaan tradisi
palakiyah di Desa Watulawang, Kecamatan Pejagoan, Kabupaten Kebumen. (2)
makna simbolik yang terdapat dalam tradisi palakiyah di Desa Watulawang,
Kecamatan Pejagoan, Kabupaten Kebumen.
Jenis penelitian ini yaitu deskriptif kualitatif. Pendekatan yang digunakan
yaitu pendekatan etnografi. Sumber data primer penelitian ini diperoleh dari
informan atau narasumber yang mengetahui tradisi palakiyah di Desa Watulawang
Kecamatan Pejagoan Kabupaten Kebumen. Sumber data sekunder berupa foto,
video, dan referensi yang relevan dengan penelitian ini. Data dalam penelitian ini
yaitu hasil observasi, hasil wawancara dengan narasumber,dan catatan lapangan.
Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu observasi partisipan, yaitu peneliti
ikut serta dalam pelaksanaan tradisi yang diteliti, wawancara semi terstruktur,
dokumentasi.Validitas data yang digunakan yaitu triangulasi sumber dan
triangulasi metode. Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik analisis
interaktif model Miles dan Hurberman.
Hasil dari penelitian adalah (1) bentuk pelaksanaan dalam tradisi palakiyah di
Desa Watulawang Kecamatan Pejagoan Kabupaten Kebumen meliputi (a) pra
pelaksanaan tradisi palakiyah, yaitu rapat persiapan tradisi palakiyah,
mempersiapkan kambing kendhit, mempersiapkan ubarampe, (b) pelaksanaan yaitu
penyembelihan kambing kendhit, ziarah kubur, berdoa, penguburan kambing
kendhit, kenduri bersama, dzikir sepuh. (2) makna simbolik yang terdapat pada
tradisi palakiyah di Desa Watulawang Kecamatan Pejagoan Kabupaten Kebumen
yaitu makna simbolik pada sesaji yang digunakan diantaranya kambing kendhit
yang memiliki dua warna yaitu, hitam dan putih menyerupai sabuk melambangkan
penyelarasan manusia dengan alam dan kesucian manusia, kemenyanan
melambangkan keinginan doa dapat terabulkan dengan perantara leluhur. Pelajaran
yang dapat diambil dari penelitian ini, yaitu mengingat bahwa manusia didunia
diciptakan oleh Tuhan, sehingga tidak boleh sombong karena di atas langit masih
ada langit.