Bentuk dan Makna Simbolik dalam Tradisi Rejeban di Desa Candingasinan Kecamatan Banyuurip Purworejo

No Thumbnail Available
Date
2026-07-09
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa Fakultas Pendidikan Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Purworejo
Abstract
Penelitian ini dilatarbelakangi belum adanya kajian yang secara khusus membahas bentuk pelaksanaan dan makna simbol ubarampe di Desa Candingasinan, Kecamatan Banyuurip, Kabupaten Purworejo, sehingga diperlukan pemahaman yang lebih mendalam. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: (1) bentuk pelaksanaan tradisi Rejeban di Desa Candingasinan Kecamatan Banyuurip Kabupaten Purworejo dan (2) makna simbolik isi ubarampe dalam tradisi Rejeban di Desa Candingasinan Kecamatan Banyuurip Kabupaten Purworejo. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif dengan pendekatan etnografi. Data penelitian dikumpulkan melalui teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Keabsahan data dilakukan dengan menggunakan triangulasi sumber dan metode. Data yang diperoleh kemudian dianalisis melalui model analisis interaktif meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk pelaksanaan tradisi Rejeban di Desa Candingasinan, Kecamatan Banyuurip, Kabupaten Purworejo, terdiri atas beberapa unsur, yaitu waktu, tempat, pelaku, dan prosesi pelaksanaan. Proses pelaksanaan tradisi Rejeban dilakukan melalui tiga tahapan, yaitu pra-pelaksanaan, pelaksanaan, dan pasca pelaksanaan. Tahap pra-pelaksanaan meliputi musyawarah dan persiapan kegiatan secara gotong royong oleh masyarakat. Tahap pelaksanaan merupakan inti kegiatan yang meliputi pertunjukan wayang kulit, kenduri, serta rangkaian acara dan hiburan masyarakat. Sementara itu, tahap pasca pelaksanaan dilakukan melalui kegiatan evaluasi serta penutupan rangkaian tradisi. Makna simbolik isi ubarampe dalam tradisi Rejeban meliputi berbagai unsur seperti sega suci ulam sari, jenang abang putih, kupat lepet, jajan rakan, banyu godhong kelor, banyu godhong dadap, banyu kembang, banyu teh, banyu kopi, tebu, padi, krambil, degan, kembang, dan endhog. Seluruh ubarampe tersebut mengandung makan yang berkaitan dengan keselamatan, kesejahteraan, keharmonisan, serta harapan hidup masyarakat sebagai wujud ungkapan rasa syukur kepada Tuhan. Makna simbol dari isi ubarampe tersebut dianalisis menggunakan teori simbol Clifford Geertz. Penelitian ini berimplikasi pada pelestarian tradisi Rejeban sebagai warisan budaya turun-temurun di Desa Candingasinan serta menambah pemahaman masyarakat terhadap nilai religius, sosial dan makna budaya yang diwariskan melalui tradisi tersebut.
Description
Keywords
Citation