Browse
Recent Submissions
- ItemEvaluasi Kapasitas Saluran Drainase Menggunakan Software EPA SWMM 5.1 (Studi Kasus: Jalan Mayjen Sutoyo Kabupaten Purworejo)(Program Studi Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Purworejo, 2026-08-24) Haekal Arif Wijaya 222510057Genangan yang terjadi di Jalan Mayjen Sutoyo, Kabupaten Purworejo, menunjukkan bahwa sistem drainase eksisting belum mampu mengalirkan limpasan air hujan secara optimal. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kondisi eksisting serta menghitung debit rencana sistem drainase berdasarkan analisis hidrologi, mengevaluasi kapasitas saluran drainase eksisting menggunakan analisis hidraulika dan perangkat lunak Environmental Protection Agency Storm Water Management Model (EPA SWMM) 5.1, serta menentukan dimensi saluran yang optimal melalui metode trial and error. Penelitian menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan data primer berupa hasil survei lapangan dan pengukuran dimensi saluran, serta data sekunder berupa data curah hujan harian maksimum selama periode 2016–2025 yang diperoleh dari Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kabupaten Purworejo Bidang Sumber Daya Air. Analisis hidrologi meliputi uji konsistensi data, analisis frekuensi, penentuan curah hujan rencana, serta perhitungan debit rencana. Selanjutnya dilakukan analisis hidraulika menggunakan persamaan Manning dan simulasi menggunakan EPA SWMM 5.1 untuk mengevaluasi kinerja saluran drainase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode Log Pearson Tipe III merupakan distribusi yang digunakan dalam penentuan curah hujan rencana. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa saluran drainase eksisting dengan dimensi 0,35 m × 0,50 m belum mampu menampung debit Qrencana sehingga masih terjadi luapan pada beberapa saluran berdasarkan hasil simulasi EPA SWMM 5.1. Melalui metode trial and error diperoleh dimensi saluran yang lebih optimal, yaitu 0,50 m × 0,80 m, dengan kapasitas saluran yang mampu mengalirkan debit Qrencana tanpa terjadi luapan. Dengan demikian, perubahan dimensi saluran tersebut dinilai efektif dalam meningkatkan kinerja sistem drainase dan mengurangi potensi genangan di Jalan Mayjen Sutoyo, Kabupaten Purworejo.
- ItemAnalisis Perbandingan Tingkat Kenyamanan Pejalan Kaki Terhadap Pemanfaatan Trotoar di Kabupaten Purworejo (Studi Kasus: Jalan Mayjen Sutoyo dan Jalan K. H. Ahmad Dahlan)(Program Studi Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Purworejo, 2026-07-02) Ananda Okta Selviana 222510079Trotoar merupakan salah satu fasilitas pendukung transportasi yang berfungsi memberikan ruang aman dan nyaman bagi pejalan kaki dalam melakukan aktivitas berjalan kaki. Namun, kondisi fasilitas trotoar yang belum optimal dapat mempengaruhi tingkat kenyamanan pengguna. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kesesuaian kondisi fasilitas trotoar berdasarkan standar teknis serta membandingkan tingkat kenyamanan pejalan kaki pada trotoar Jalan Mayjen Sutoyo dan Jalan K.H. Ahmad Dahlan di Kabupaten Purworejo. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kuantitatif dengan pendekatan deskriptif komparatif. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi lapangan, pengukuran kondisi fisik trotoar, dokumentasi, serta penyebaran kuesioner kepada pengguna trotoar. Analisis kondisi fasilitas trotoar mengacu pada Surat Edaran Menteri PUPR Nomor 02/SE/M/2018 tentang Pedoman Perencanaan Teknis Fasilitas Pejalan Kaki. Pengolahan data kuesioner dilakukan menggunakan skala Likert dengan analisis statistik deskriptif, serta dilakukan pengujian validitas dan reliabilitas menggunakan bantuan program SPSS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lebar efektif trotoar pada Jalan Mayjen Sutoyo sebesar 2,20 meter dan Jalan K.H. Ahmad Dahlan sebesar 2,13 meter, sehingga keduanya telah memenuhi standar lebar minimum trotoar. Namun, kelengkapan fasilitas pendukung pejalan kaki pada kedua lokasi masih belum sepenuhnya memenuhi standar. Jalan Mayjen Sutoyo memiliki tingkat pemenuhan fasilitas sebesar 54,54%, sedangkan Jalan K.H. Ahmad Dahlan sebesar 45,45%. Berdasarkan hasil analisis tingkat kenyamanan, Jalan Mayjen Sutoyo memperoleh nilai sebesar 64,27% dengan kategori cukup nyaman, sedangkan Jalan K.H. Ahmad Dahlan memperoleh nilai sebesar 49,68% dengan kategori kurang nyaman. Perbedaan tingkat kenyamanan tersebut dipengaruhi oleh kondisi fasilitas, kelengkapan elemen pendukung, serta kondisi lingkungan sekitar trotoar. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa kedua lokasi penelitian telah memenuhi aspek dimensi lebar trotoar, namun masih memerlukan peningkatan pada aspek fasilitas dan kenyamanan agar tercipta fasilitas pejalan kaki yang lebih aman, nyaman, dan inklusif.
- ItemAnalisis Kinerja Ruas Jalan Akibat Hambatan Samping (Studi Kasus : Ruas Jalan Kutoarjo-Ketawang, Kab Purworejo)(Program Studi Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Purworejo, 2026-08-26) Mukh Fatikhi 222510064Pertumbuhan jumlah kendaraan bermotor di Indonesia yang tidak diimbangi dengan penambahan kapasitas prasarana jalan menyebabkan penurunan kinerja lalu lintas, salah satunya pada ruas Jalan Kutoarjo–Ketawang, Kabupaten Purworejo. Penurunan kinerja ini diperparah oleh hambatan samping (side friction) berupa aktivitas pedagang kaki lima, pejalan kaki, kendaraan parkir, kendaraan keluar-masuk, serta kendaraan lambat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kapasitas ruas jalan serta pengaruh hambatan samping terhadap kinerja Jalan Kutoarjo–Ketawang dengan menggunakan dan membandingkan dua metode, yaitu Manual Kapasitas Jalan Indonesia (MKJI) 1997 dan Pedoman Kapasitas Jalan Indonesia (PKJI) 2023. Penelitian menggunakan metode kuantitatif melalui survei lapangan selama tiga hari (Senin, Kamis, dan Minggu) pada tiga periode jam puncak (06.00–08.00, 11.00–13.00, dan 16.00–18.00 WIB), meliputi data geometrik jalan, volume lalu lintas, dan hambatan samping. Data kemudian diolah untuk memperoleh nilai kapasitas, derajat kejenuhan, kecepatan arus bebas, kecepatan tempuh, dan tingkat pelayanan (Level of Service/LOS) . Hasil penelitian menunjukkan volume lalu lintas tertinggi sebesar 1.372,75 smp/jam (skr/jam) dengan hambatan samping tertinggi 998,90 kejadian/jam (kelas Sangat Tinggi). Kapasitas jalan menurut MKJI 1997 sebesar 2.641,49 smp/jam dengan derajat kejenuhan 0,52, sedangkan menurut PKJI 2023 sebesar 2.550,41 skr/jam dengan derajat kejenuhan 0,54, keduanya berada pada tingkat pelayanan (LOS) A. Skenario hambatan samping kelas Sangat Rendah menunjukkan peningkatan kapasitas sebesar 16,47%, penurunan derajat kejenuhan 14,81–15,38%, serta peningkatan kecepatan arus bebas 18,84% pada kedua metode. Hasil ini membuktikan bahwa hambatan samping berpengaruh signifikan terhadap kinerja ruas jalan, dan PKJI 2023 memberikan estimasi kapasitas yang sedikit lebih konservatif dibandingkan MKJI 1997.
- ItemAnalisis Penentu Harga Jual Rumah Tinggal Di Kemang Verde Residence Bogor(Program Studi Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Purworejo, 2026-08-28) Sandy Akbar Prasetya 222510096Harga jual rumah tinggal di kawasan perumahan klaster premium seperti Kemang Verde Residence, Bogor, dipengaruhi oleh berbagai atribut properti, namun bukti empiris mengenai pengaruh luas tanah, luas bangunan, jumlah kamar tidur, faktor lokasi, dan karakteristik wilayah terhadap harga jual di kawasan tersebut belum tersedia, sehingga belum diketahui pula faktor yang paling dominan memengaruhinya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh kelima variabel tersebut, baik secara parsial maupun simultan, terhadap harga jual rumah tinggal (diukur melalui Willingness to Pay/WTP), serta mengidentifikasi variabel yang paling dominan. Penelitian menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan eksplanatif berbasis kerangka Hedonic Price Model .Data dikumpulkan dari 130 responden melalui kuesioner dan data sekunder, kemudian dianalisis menggunakan regresi linear berganda dengan metode Ordinary Least Squares (OLS) terhadap variabel Ln(WTP) yang telah ditransformasi logaritma natural. Hasil penelitian menunjukkan bahwa luas tanah (β = 0,201) dan luas bangunan (β = 0,857) berpengaruh positif dan signifikan terhadap harga jual, sedangkan jumlah kamar tidur, faktor lokasi, dan karakteristik wilayah tidak terbukti berpengaruh signifikan. Secara simultan, seluruh variabel independen berpengaruh signifikan terhadap Ln(WTP) dengan kemampuan menjelaskan variasi sebesar 73,2% (Adjusted R²). Luas bangunan teridentifikasi sebagai faktor paling dominan dalam menentukan harga jual rumah tinggal di kawasan tersebut. Dapat disimpulkan bahwa atribut struktural, khususnya luas bangunan, merupakan penentu utama harga jual properti residensial di Kemang Verde Residence, Bogor, sementara atribut lokasi dan wilayah cenderung dianggap sebagai standar minimal pada segmen pasar ini
- ItemAnalisis Sisa Umur TPA Berdasarkan Sistem Pengolahan Sampah (Studi Kasus: TPA Putri Cempo, Surakarta dan TPA Banyuurip, Magelang)(Program Studi Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Purworejo, 2026-08-31) Sigit Prasetyo 222510024Pertumbuhan penduduk yang pesat meningkatkan volume timbulan sampah, sehingga kapasitas TPA Putri Cempo (Surakarta) dan TPA Banyuurip (Magelang) semakin menyusut dan mendekati overload. Kedua TPA mewakili pendekatan berbeda: Putri Cempo menerapkan Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PLTSa) berteknologi termal, sedangkan Banyuurip menerapkan controlled landfill yang didukung pemilahan dan pengomposan. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi sistem pengolahan sampah, menghitung volume sampah harian, serta menganalisis dan memproyeksikan sisa umur pakai kedua TPA berdasarkan kapasitas lahan eksisting. Metode yang digunakan adalah survei dan deskriptif kuantitatif dengan data primer selama 7 hari berturut-turut di masing-masing lokasi pada Juni 2026, serta data sekunder berupa data kependudukan BPS tahun 2016–2025 dan data jembatan timbang dari instansi terkait. Proyeksi penduduk dan volume sampah dihitung dengan persamaan geometrik, sedangkan sisa kapasitas daya tampung dihitung menggunakan pendekatan recovery factor (Banyuurip) dan neraca massa/mass balance (Putri Cempo). Hasil penelitian menunjukkan rata-rata timbulan sampah di TPA Putri Cempo mencapai 291.624 kg/hari, jauh lebih besar dibanding TPA Banyuurip sebesar 70.107 kg/hari. TPA Banyuurip dengan sisa daya tampung kritis 100.000 m³ diproyeksikan habis dalam 0,84 tahun tanpa reduksi, dan dapat diperpanjang menjadi 2,37 tahun (866 hari) melalui upaya reduksi. TPA Putri Cempo dengan sisa lahan 630.000 m³ memiliki sisa umur 2,35 tahun tanpa reduksi, meningkat menjadi 3,00 tahun (1.094 hari) melalui operasionalisasi PLTSa. Meskipun upaya pengolahan mampu memperlambat laju penumpukan sampah, kapasitas maksimal kedua TPA diproyeksikan tetap terlampaui selambatlambatnya pada tahun 2028. Hasil ini menegaskan bahwa kombinasi teknologi pengolahan sampah dan upaya reduksi menjadi faktor penting dalam memperpanjang umur operasional TPA, sekaligus menjadi dasar pertimbangan bagi pemerintah daerah dalam menyusun kebijakan pengelolaan sampah jangka panjang.