Teknik Sipil
Permanent URI for this collection
Browse
Browsing Teknik Sipil by Title
Now showing 1 - 20 of 195
Results Per Page
Sort Options
- ItemANALISA KEBUTUHAN AIR PADA PETAK TERSIER DAERAH IRIGASI PENUNGKULAN KABUPATEN PURWOREJO DENGAN METODE DRUM(PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PURWOREJO , 2017-10-13) Elin Wahyudi 102510008, Yusuf Priyo Nugroho 102510024Air irigasi berperan penting dalam peningkatan produksi pangan terutama padi. Namun dengan ketersedian air yang semakin terbatas, maka penting untuk melaksanakan tata cara pemberian air irigasi yang lebih efisien. Irigasi adalah suatu usaha memberikan air untuk keperluan pertanian tanaman padi yang dilakukan dengan cara teratur pada petak-petak sawah. Pemberian air dapat dinyatakan efisien bila debit air yang disalurkan melalui sarana irigasi seoptimal mungkin sesuai dengan kebutuhan tanaman padi pada lahan pertanian yang potensial. Efisiensi air didefinisikan sebagai perbandingan antara jumlah kebutuhan air dengan jumlah air yang diberikan. Permasalahan pengelolaan air irigasi akan timbul jika terjadi kekurangan air di petak tersier sawah, penelitian ini dilakukan secara langsung di lapangan dengan menggunakan teknik drum padi dan teknik inflow - outflow di petak tersier sawah. Parameter-parameter yang diamati dalam pengukuran langsung di lapangan adalah debit air irigasi, evapotranspirasi, perkolasi, dan curah hujan efektif. Hasil penelitian ini menunjukan nilai efisiensi petak sawah (Ea) lebih baik daripada nilai efisiensi jaringan irigasi, karena efisiensi rata-rata petak sawah mencapai 85,90%, sedangkan efisiensi jaringan hanya 70%. NIlai efisiensi total dari efisiensi petak sawah dan efisiensi jaringan sebesar 60,13%. Efisiensi irigasi pada petak tersier sawah untuk tanaman padi di Daerah Irigasi Penungkulan diharapkan dapat menjadi masukan kepada pihak-pihak terkait dalam mengambil kebijakan mengenai sistem pemberian air irigasi yang lebih efisien dalam penggunaan air irigasi sehingga membantu mengatasi masalah kekurangan air pada petak tersier sawah.
- ItemANALISA KINERJA BENDUNG BERDASARKAN ASPEK FUNGSI STRUKTUR BANGUNAN ( STUDI KASUS BENDUNG PEKATINGAN )(PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PURWOREJO , 2017-07-21) MUHAMMAD WAHYUDI 122510007Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh: (1) bobot komponen bendung yang dapat digunakan sebagai indikator kinerja bendung berdasarkan kondisi dan keberfungsian bangunannya, (2) menganalisa kinerja bendung berdasarkan kondisi dan keberfungsian bangunannya, (3) menghitung nilai kondisi Bendung Pekatingan saat ini berdasarkan desain penilaian kondisi dan fungsi bangunan bendung. Studi ini mengambil lokasi di Bendung Pekatingan yang terletak di Desa Butuh, Kecamatan Butuh, Kabupaten Purworejo, Provinsi Jawa Tengah. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan Pengamatan langsung si lapangan yang kemudian data diolah. Dari hasil pengolahan data tersebut, kondisi dan keberfungsian bendung Pekatingan dianalisis dan diinterprestasikan. Analisis Data Menggunakan Metode AHP (Analytic Hierarchy Process). Hasil Analisis data Hasil analisa yang dilakukan dari data survei bendung menghasilkan kinerja bendung berdasarkan kondisi kerusakan komponennya yang berupa bobot debit sebesar 9.91%, bobot sedimen sebesar 3.63%, bobot mercu sebesar 12.46%, bobot bangunan pengambilan sebesar 4.15%, bobot bangunan penguras sebesar 1.05%, bobot bangunan pembilas sebesar 1.45%, dan bobot kantong lumpur sebesar 0.38%. Sedangkan untuk hasil analisa kinerja bendung berdasarkan fungsi komponen yaitu berupa bobot debit sebesar 34.58%, bobot sedimen sebesar 8.31%, bobot mercu sebesar 19.26%, bobot bangunan pengambilan sebesar 4.96%, bobot bangunan penguras sebesar 3.54%, bobot bangunan pembilas sebesar 3.93%, dan bobot kantong lumpur sebesar 1.97%. Kondisi komponen kinerja bendung Pekatingan adalah kerusakan komponen pada bendung Pekatingan sebesar 33.02% dan kondisi bendung mengalami RUSAK SEDANG. Fungsi kinerja komponen pada bendung Pekatingan sebesar 76.55% dan keberfungsian bendung dalam kondisi CUKUP.
- ItemANALISA KINERJA SIMPANG BERSINYAL BERDASARKAN MANUAL KAPASITAS JALAN INDONESIA 1997 (Studi Kasus Simpang Lengkong Jl. Tentara Pelajar Kab. Purworejo)(PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PURWOREJO, 2016-03-01) Panji Tejo Buono 112510032Penelitian dilakukan di simpang bersinyal Lengkong Jalan Tentara Pelajar Kabupaten Purworejo karena pada simpang tersebut mempunyai tingkat kepadatan dan keramaian yang cukup besar. Sehubungan dengan hal itu maka perlu di lakukan penelitian khususnya pada simpang bersinyal Lengkong dengan menggunakan standar Manual Kapasitas Jalan Indonesia 1997. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis apakah penggunaan sinyal (traffic light) pada simpang bersinyal Lengkong masih mempunyai kinerja yang baik. Perhitungan analisis dan simulasi yang diterapkan dalam penelitian ini menggunakan metode MKJI 1997. Data primer yang diambil dalam penelitian berupa geometrik jalan, kondisi lingkungan, jarak parkir, volume lalu lintas, dan penggunaan sinyal. Sedangkan data sekunder yang dibutuhkan adalah data jumlah penduduk Kota Purworejo. Penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi Dinas Pekerjaan Umum dan Dinas Perhubungan, dan dapat dijadikan pertimbangan pembangunan atau perencanaan di masa yang akan datang. Dari hasil perhitungan data dapat diketahui bahwa simpang bersinyal Lengkong Jl. Tentara Pelajar masih efektif dalam melayani arus lalu lintas, hal itu dibuktikan dengan hasil perhitungan derajat kejenuhan (Ds) dengan nilai 0.634 untuk seluruh pendekat, yang berarti simpang Lengkong Jl. Tentara Pelajar termasuk dalam tingkat pelayanan B (Pemenhub No:14 Tahun 2006). Dari hasil simulasi didapat pendekat dari arah Kutoarjo (Barat STOR) dapat dijadiakn alternatif dengan nilai-nilai yang lebih kecil, yaitu Ds = 0.604, waktu siklus (c)= 49 detik, waktu hilang (LTI) = 14 detik. Dengan hasil perhitungan simulai tersebut maka dapat menambah kapasitas pada Simpang Lengkong Jl. Tentara Pelajar dan menambah kenyamanan untuk pengguna jalan karena waktu siklus yang lebih pendek.
- ItemANALISA KUALITAS PELAYANAN AIR BERSIH PDAM PURWOREJO (STUDI KASUS INSTALASI PDAM CABANG BENER DESA KEDUNGPUCANG DAN KALIBOTO)(PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PURWOREJO, 2019-03-15) YAENUL MUSTOFA 142510001Tujuan penelitian ini untuk mengetahui faktor-faktor yang mendukung Kualitas Pelayanan air bersih PDAM Perwitasari Purworejo seperti, Bukti langsung (Tangibel), Daya Tanggap (Responsiveness), Kehandalan (Reliability), Jaminan (Assurance), Empati (Empathy), serta untuk menganalisa kualitas pelayanan yang diberikan oleh Perusahaan Daerah Air Minum Tirta Perwitasari Purworejo dalam memenuhi kebutuhan dan harapan pelanggan. Tahapan penelitian ini adalah studi berbagai literatur yang ada untuk menentukan variabel yang akan digunakan. Tahap selanjutnya mendesain kuisoner penelitian kemudian melakukan pengambilan data dengan cara wawancara langsung dan dengan metode random sampling. Data yang diperoleh dari kuisoner dijelaskan melalui analisis deskriptif atau metode survei dan untuk mengetahui pengaruh variabel Tangibel, Responsiveness, Reliability, Assurance dan Empathy terhadap Kualitas Pelayanan digunakan analisis regresi berganda meliputi uji Validitas & Reliabilitas, uji regresi ( uji f & t ). Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa variabel bebas Tangibel (X1), Responsiveness (X2), Reliability (X3), Assurance (X4) dan Empathy (X5) secara simultan dan parsial berpengaruh signifikan dan positif terhadap Kualitas Pelayanan pada PDAM Purworejo di Desa Kedungpucang dan Desa Kaliboto, dimana pengaruh variabel X1 sebesar 0,249, X2 sebesar 0,132, X3 sebesar 0,151, X4 sebesar 0,323, X5 sebesar 0,259. Dari hasil Tabel Persentase juga disimpulkan bahwa rata-rata jawaban pelanggan PDAM di Desa Kedungpucang dan Kaliboto dari kelima variabel tersebut yang terbesar ada pada variabel Kehandalan (Responsiveness) dengan jawaban 81,9% dengan kategori puas
- ItemANALISA KUAT TEKAN BETON GEOPOLIMER ABU SEKAM PADI, KAPUR TOHOR, AKTIVATOR ALKALI DAN SUPERPLASTICIZER(Program Studi Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Purworejo, 2019-04-15) SRI LAKSONO 132510045Pemakaian beton dalam proses pembangunan yang berkelanjutan, terdapat proses produksi semen yang banyak menghasilkan banyak gas karbon dioksida (CO2). Gas karbondioksida yang berkelanjutan dapat memicu terjadinya pemanasan global yang dapat membahayakan peradaban manusia di bumi. Ada beberapa alternatif pembuatan beton tanpa semen untuk mengurangi resiko pemanasan global di antaranya pengembangan riset ikatan geopolimer, Salah satu bahan untuk pembuatan beton geopolimer yaitu Abu Sekam Padi. Dalam penelitian ini akan dilakukan studi tentang kuat tekan beton geopolimer berbahan abu sekam dan kapur tohor, menganalisa berapa proporsi yang tepat dalam penggunaan perbandingan variasi abu sekam padi dengan kapur tohor, dan menganalisa apakah abu sekam padi dan kapur tohor bisa digunakan untuk beton geopolimer. Pada penelitian ini yaitu menggunakan metode eksperimental, dibuat benda uji silinder berbentuk silinder dengan ukuran diameter 75 mm dan tinggi 150 mm. Perbandingan prekursor menggunakan variasi abu sekam padi : kapur tohor yaitu 70 : 30, 80 : 20, 90 : 10 dan 100 : 0. Penggunaan masing- masing variasi berjumlah 9 benda uji dari total 36 buah untuk pengujian kuat tekan 7,14 dan 28 hari. Perbandingan binder : Agregat yaitu menggunakan 1 : 5 dengan prosentase larutan alkali 26 % : prekursor 74 % untuk perbandingan berat dari binder. Perbandingan alkali aktivator NaOH : Na2SiO3 yang digunakan adalah 1 : 2,5. Pemeliharaan benda uji menggunakan curing suhu ruangan di laboratorium. Dari hasil penelitian menunjukan bahwa nilai kuat tekan beton geopolimer tertinggi pada GEO 70 yaitu 3.51 MPa pada umur 14 hari, dan selanjutnya di umur selanjutnya 28 hari mengalami penurunan. Kuat tekan paling tinggi pada variasi GEO 80 = 0.75 MPa, GEO 90 = 0.55 Mpa, GEO 100 = 0.36 MPa juga terdapat pada umur 14 hari, dan selanjutnya di umur 28 hari menurun, kecuali GEO 80 tetap. Kuat tekan beton geopolimer yang dihasilkan dalam penelitian ini termasuk beton sederhana karena kurang dari 10 MPa
- ItemANALISA KUAT TEKAN BETON GEOPOLIMER DENGAN BAHAN ALTERNATIF ABU SEKAM PADI DAN KAPUR PADAM(FAKULTAS TEKNIK PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PURWOREJO, 2017-08-23) Teguh Utomo 132510016Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai kuat tekan beton geopolimer dengan variasi abu sekam padi dan kapur padam. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimental (percobaan langsung di laboratorium), dengan menentukan faktor air baru dan komposisi campuran. Perawatan beton dilakukan dengan suhu ruang. dalam penelitian ini menggunakan variasi abu sekam padi:kapur padam, 70:30, 80:20, 90:10, 100:0. Faktor air baru didapat 0,85 dari berat binder. Perbandingan NaOH : Na2SiO3 yang digunakan adalah 1:2,5. Benda uji silinder yang digunakan berdimeter 85 mm, tinggi 170, dan sebanyak 36 benda uji. Hasil nilai kuat tekan rata-rata beton geopolimer pada variasi 70:30 (Abu Sekam Padi : Kapur Padam), pada umur 7,14, dan 28 hari dengan hasil berturutturut adalah 3,644 MPa, 3,924 MPa, dan 2,579 MPa, Variasi 80:20 (Abu Sekam Padi : Kapur Padam) adalah 4,205 MPa, 3,924 MPa, dan 3,364 Mpa, variasi 90:10 (Abu Sekam Padi : Kapur Padam) adalah 3,644 MPa, 3,644 MPa, dan 3,308 MPa, variasi 100:0 (Abu Sekam Padi : Kapur Padam) adalah 3,084 MPa, 3,364 MPa, dan 2,411 MPa. Kuat tekan optimum yang diperoleh dalam penelitian adalah pada variasi abu sekam padi:kapur padam (80:20) yaitu sebesar 4,205 MPa. Berdasarkan jenis beton menurut kuat tekannya, maka beton geopolimer berbahan abu sekam padi dan kapur padam termasuk ke dalam beton sederhana yaitu beton untuk bagian-bagian non-struktur.
- ItemANALISA KUAT TEKAN MORTAR GEOPOLIMER BERBAHAN ABU SEKAM PADI DAN KAPUR PADAM(PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PURWOREJO , 2017-08-23) Yulis Setyani 122510036Penelitian ini bertujuan untuk: (1) menganalisa pengaruh penggunaan abu sekam padi dan kapur padam terhadap kuat tekan mortar geopolimer, (2) menganalisa proporsi optimum penggunaan abu sekam padi dan kapur untuk mortar geopolimer, dan (3) menganalisa apakah abu sekam padi dan kapur dapat digunakan untuk mortar geopolimer. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental yaitu percobaan di laboratorium. Benda uji kubus berukuran 5 x 5 x 5 cm dengan variasi proporsi abu sekam padi:kapur padam 100:0, 90:10, 80:20, dan 70:30 sebanyak 36 benda uji. Perbandingan binder:pasir yang digunakan adalah 1:3 dengan penambahan larutan alkali sebesar 26% dari berat prekursor. Perbandingan NaOH:Na2SiO3 yang digunakan adalah 1:2,5. Curing yang dipakai dengan cara didiamkan dalam suhu ruangan. Pengujian dilakukan pada umur 7, 14, dan 28 hari. Dari hasil penelitian yang dilakukan, didapat kuat tekan mortar geopolimer umur 28 hari variasi abu sekam padi:kapur padam 70:30 sebesar 22,31 kg/cm2, variasi abu sekam padi:kapur padam 80:20 sebesar 15,58 kg/cm2, variasi abu sekam padi:kapur padam 90:10 sebesar 15,20 kg/cm2, dan variasi abu sekam padi:kapur padam 100:0 sebesar 8,30 kg/cm2. Kuat tekan optimum mortar geopolimer pada variasi abu sekam padi:kapur padam 70:30 pada umur 28 hari yaitu 22,31 kg/cm2. Dari hasil uji kuat tekan menunjukan bahwa pengurangan abu sekam padi dan penambahan kapur padam dapat meningkatkan kuat tekan mortar. Berdasarkan tipe mortar, mortar geopolimer berbahan abu sekam padi dan kapur padam termasuk ke dalam tipe mortar K yaitu mortar dengan kuat tekan rendah.
- ItemANALISA PENGEMBANGAN JARINGAN IRIGASI BENDUNG PEKATINGAN(PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PURWOREJO, 2016-08-21) INDRA GUNAWAN 122510004Penelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya permasalahan yang mengacu pada Pengembangan Jaringan irigasi dalam hal pengaturan distribusi air Daerah Bendung Pekatingan. Penelitian ini bertujuan untuk : (1) untuk mengevaluasi kemampuan debit yang tersedia dilokasi penelitian, sehingga pengembangan jaringan irigasi dapat dilakuakan. (2) ubtuk menganalisa faktor K atau faktor penyedia air relatif (PAR). (3) membuat model pengembangan pembagian air DI Pekatingan. Studi ini mengambil lokasi di Daerah Irigasi Bendung Pekatingan yang terletak di Desa Binangun, Kecamatan Butuh, Kabupaten Purworejo, Provinsi Jawa Tengah. Teknik pengupulan data dilakukan dengan cara observasi yang kemudian data diolah. Dari hasil perhitungan tersebut, ketersediaan sumber daya air yang ada dianaisis dan diinterprestasikan. Hasil dari data ketersediaan air periode setengah bulanan, maka besarnya debit andalan 80 % yang terjadi cukup bervariasi, dimana debit terbesar terjadi pada bulan Mei Periode II yaitu sebesar 17,64 m3/dt, dan debit terkecil terjadi pada bulan Oktober Periode I dan II yaitu sebesar 0,00 m3/dt. Dari hasil antara debit andalan dan kebutuhan air terhadap luas areal yang dapat dikembangkan menjadi areal irigasi, yaitu kondisi pada Musim Tanam I mengalami surplus, pada Musim Tanam II mengalami defisit pada bulan Maret periode I sebesar -1,1 m3/dt, dan bulan April periode I sebesar -1,13 m3/dt. Pada Musim Tanam III juga mengalami defisit pada bulan Agustus periode I sebesar - 0,68 m/dt, bulan September periode I sebesar -0,448 m3/dt, dan bulan Oktober periode I sebesar -0,21 m3/dt. Berdasarkan analisis faktor K didapat nilai rata-rata faktor K dari 3 (tiga) musim tanam yaitu sebesar 5,72 untuk musim tanam I (MT-I), 4,563 untuk musim tanam II (MT-II), dan 4,18 untuk musim tanam III (MT-III). Sehingga pola pemberian air untuk musim tanam I (MT-I), musim tanam II(MT-II), musim tanam III (MT-III) adalah menggunakan pola irigasi menerus Dari perhitungan Neraca Air terjadi pengembangan pada Musim Tanam I (MT-I) kondisi airnya surplus atau berlebih sehingga dapat dikembangkan untuk mengairi DI dan sekitarnya.
- ItemAnalisa Pengurangan Risiko Banjir Menggunakan Simulasi Sumur Resapan di Sub DAS Gesing(Program Studi Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Purworejo, 2019-02-27) Dwi Anggraeni 142510011Sub DAS Gesing dengan luas 45,70 km2 merupakan salah satu wilayah yang memiliki potensi banjir limpasan yang tinggi. Banjir limpasan yang terjadi pada Sub DAS Gesing disebabkan karena meluapnya air sungai dan kurangnya luas daerah resapan air akibat perubahan tata guna lahan yang tidak terencana dan terpola dengan baik serta tidak berwawasan lingkungan sehingga mengakibatkan bertambahnya volume debit banjir. Hal itu akan berakibat pada meningkatnya limpasan air permukaan dan memperkecil infiltrasi curah hujan. Perubahan yang mungkin akan timbul adalah meningkatnya debit banjir dan jumlah sedimen yang dibawa. Metode penelitian menggunakan metode kuantitatif dengan pengolahan data sekunder berupa data stasiun hujan dan data curah hujan harian maksimum selama 5 tahun yang dianalisa kedalam metode Hidrograf Satuan Sintetik dan Simulasi HEC-HMS. Perhitungan intensitas hujan jam-jaman menggunakan metode Modified Mononobe dan perhitungan distribusi hujan menggunakan metode Alternating Block Method (ABM). Hasil penelitian menggunakan metode Mononobe dan metode ABM ditambah sumur resapan untuk Sub DAS Gesing pada kala ulang 5, 10, 20 dan 50 tahun mengalami 11,96 %, 11,49 %, 10,96 % dan 10,30 %. Dalam perhitungan jumlah kebutuhan dan efektivitas sumur resapan tiap luasan atap menggunakan 2 metode yakni metode Sunjoto dan metode SNI 03-2453-2002 memiliki perbedaan yang cukup signifikan yaitu perhitungan jumlah sumur resapan metode SNI 03-2453-2002 adalah 2 sampai 6 kali perhitungan metode Sunjoto sedangkan perhitungan efektivitas antara kedua metode yang memiliki efektivitas paling tinggi adalah metode Sunjoto
- ItemANALISA PRODUKTIVITAS PENGGUNAAN ALAT BERAT PADA PEKERJAAN TANAH PEMBUATAN BADAN JALAN KERETA API Studi Kasus Pembuatan Badan Jalan Kereta Api Lintas Kroya - Kutoarjo Antara Sruweng - Soka di Kebumen(PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PURWOREJO , 2017-07-25) YOGI SETYO TRI WIBOWO 102510022Jalan Kereta Api Lintas Kroya – Kutoarjo antara Sruweng – Soka merupakan jalur ganda kereta api, diharapkan dengan adanya pembangunan proyek jalur ganda kereta, akan mengurangi kepadatan lalu lintas dan memperlacar perekonomian antar Provinsi di Indonesia. Waktu pelaksanaan pekerjaan tanah menggunakan setengahnya waktu total dari time schedule addendum 1 (satu), time schedule addendum 2 (dua), dan time schedule addendum 3 (tiga) yaitu 37 hari kalender untuk tanah dipindahkan, sedangkan tanah yang dipadatkan yaitu 77 hari kalender. Pelaksanaan pekerjaan pembuatan badan jalan kereta api di dominasi penggunaan alat berat. Pemilihan dan penentuan alat yang tepat agar peralatan dapat beroprasi secara efektif. Penelitian ini menggunakan teori produktivitas alat berat, penentu jenis dan jumlah alat sesuai dengan medan lokasi, jenis tanah yang akan digali dan dipadatkan. Komposisi alat berat yang dipakai akan mempengaruhi jumlah alat dan waktu pekerjaan alat berat yang optimum pada pelaksanaan pekerjaan tanah tubuh jalan kereta api sepanjang 2,5 kilo meter pada Km.441+900 s/d Km.444+400, jam kerja alat berat mengunakan jam kerja normal yaitu 8 jam, metode perhitungan yang dilakukan dengan cara trial and error. Dari trial perhitungan produksi alat berat dengan mengambil dua alternatif. Hasil perolehan jumlah alat dan waktu optimum yang diperlukan untuk penyelesaian pekerjaan tanah didapatkan alternatif pertama yaitu pada tanah dipindahkan 4 unit excavator, 2 unit bulldozer, dan 6 unit dump truck waktu penyelesaiannya 28 hari/224 jam kerja, sedangkan tanah dipadatkan 4 unit bulldozer, 2 unit vibrator roller, dan 7 unit dump truck waktu penyelesaiannya 63 hari/504 jam kerja. Sehingga pekerjaan mengalami percepatan 10 hari (26,32 %) dari pekerjaan tanah dipindahkan dan tanah dipadatkan 14 hari (18,18 %) dari pekerjaan yang di lapangan.
- ItemAnalisis Angkutan Sedimen Bendung Kalisemo Kecamatan Loano, Kabupaten Purworejo(Program Studi Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Purworejo, 2024-08-21) Alim GunawanSedimentasi pada Bendung Kalisemo mengalami penumpukan yang sangat banyak permasalahan tersebut mempengaruhi kinerja Bendung Kalisemo. Banyaknya sedimen pada Bendung Kalisemo tersebut menyebabkan pendangkalan pada bendung yang berdampak pada pengoperasian bendung khususnya dalam penyediaan air baik untuk irigasi, Pengendalian banjir dan lain sebagainya. Sedimen yang mengendap pada hulu bendung berpotensi masuk melalui pintu intake ke saluran primer sehingga dapat mengurangi kapasitas saluran. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk menganalisis karakteristik dan volume sedimen dasar (bed load) Bendung Kalisemo, serta mendapatkan alternatif penanganan penumpukan sedimentasi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pengukuran dan pengambilan langsung semple di lapangan serta pengujian di laboratorium. Metode perhitungan angkutan sedimen menggunakan metode Meyer Peter Muller dan Einstein. Sampel sedimen dasar diambil 3 titik yaitu titik 1(kanan), titik 2 (tengah), titik 3 (kiri). Penelitian dilakukan pengumpulan data secara langsung dengan pengukuran langsung, pengamatan langsung, serta pengujian sampel pada Laboratorium. Hasil analisis karakteristik angkutan sedimen bendung kalisemo untuk jenis butiran pada penampang bendung butiran terbesar termasuk kedalam jenis kerikil berkwarsa tertahan pada saringan no. 19 mm dan butiran terkecil adalah pasir sangat halus karna tertahan pada saringan no.0,075 mm. Hasil analisis volume angkutan sedimen dasar (bed load) dengan metode Meyer Peter Muller adalah 8,7114 m³/hari dan untuk metode Einstein sebesar 6,6097 m³/hari. Alternatif penanganan dengan melakukan pengurasan rutin saat debit sungai pada bendung mengalami banjir,dan pengerukan setelah sedimen mencapai puncak elevasi mercu bendung, diperkirakan dalam jangka 2 tahun. Pengerukan dilakukan dengan menggunakan alat berat dengan kapasitas kecil.
- ItemANALISIS CURAH HUJAN PEMODELAN DERET WAKTU DAS LUK ULO KABUPATEN KEBUMEN(Program Studi Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Purworejo, 2024-02-05) ARUM FEBRIADIPenelitian ini dilakukan di tiga stasiun hujan pada Daerah Aliran Sungai Luk Ulo yaitu Stasiun Kaligending, Karanggayam dan Alian. Luas wilayah DAS 675,53 km2 yang terletak di Provinsi Jawa Tengah. Secara administrasi meliputi tiga kabupaten, yaitu Kabupaten Kebumen, Kabupaten Banjarnegara, dan Kabupaten Wonosobo. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis data curah hujan, menguji kesesuaian peramalan, dan membandingkan hasil uji dengan nilai aktual. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode Single Moving Average kemudian dilakukan perhitungan prediksi curah hujan mendatang pada DAS Luk Ulo sehingga akan diketahui nilai terkecil dan besarnya puncak dari curah hujan serta akan diketahui nilai perbandingannya dengan memperhatikan perhitungan kesalahan prediksi peramalan. Hasil uji konsistensi curah hujan dari tiga stasiun memenuhi syarat dan dapat dikatakan konsisten. Perhitungan peramalan curah hujan dengan metode Single Moving Average pada stasiun Kaligending menghasilkan nilai MAPE 39,75%, stasiun Karanggayam 35,46%, stasiun Alian 34,69%. Analisis kesesuaian peramalan dengan menghitung rata-rata MAPE sebesar 36,63%, nilai tersebut berkisar di 20-50% maka dikatakan kesesuaian peramalan memiliki kemampuan peramalan yang layak. Perbandingan nilai uji dengan nilai aktual menghasilkan nilai error paling tinggi yaitu 562,33 mm, serta nilai error terendah dengan nilai 13,00 mm, serta selisih rata-rata tiga stasiun yaitu 141,63 mm.
- ItemANALISIS CURAH HUJAN PEMODELAN DERET WAKTU DAS LUK ULO KABUPATEN KEBUMEN(PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PURWOREJO, 2024-02-05) ARUM FEBRIADIPenelitian ini dilakukan di tiga stasiun hujan pada Daerah Aliran Sungai Luk Ulo yaitu Stasiun Kaligending, Karanggayam dan Alian. Luas wilayah DAS 675,53 km2 yang terletak di Provinsi Jawa Tengah. Secara administrasi meliputi tiga kabupaten, yaitu Kabupaten Kebumen, Kabupaten Banjarnegara, dan Kabupaten Wonosobo. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis data curah hujan, menguji kesesuaian peramalan, dan membandingkan hasil uji dengan nilai aktual. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode Single Moving Average kemudian dilakukan perhitungan prediksi curah hujan mendatang pada DAS Luk Ulo sehingga akan diketahui nilai terkecil dan besarnya puncak dari curah hujan serta akan diketahui nilai perbandingannya dengan memperhatikan perhitungan kesalahan prediksi peramalan. Hasil uji konsistensi curah hujan dari tiga stasiun memenuhi syarat dan dapat dikatakan konsisten. Perhitungan peramalan curah hujan dengan metode Single Moving Average pada stasiun Kaligending menghasilkan nilai MAPE 39,75%, stasiun Karanggayam 35,46%, stasiun Alian 34,69%. Analisis kesesuaian peramalan dengan menghitung rata-rata MAPE sebesar 36,63%, nilai tersebut berkisar di 20-50% maka dikatakan kesesuaian peramalan memiliki kemampuan peramalan yang layak. Perbandingan nilai uji dengan nilai aktual menghasilkan nilai error paling tinggi yaitu 562,33 mm, serta nilai error terendah dengan nilai 13,00 mm, serta selisih rata-rata tiga stasiun yaitu 141,63 mm
- ItemANALISIS DAERAH RAWAN BENCANA LONGSOR MENGGUNAKAN ARC – GIS DALAM UPAYA MITIGASI BENCANA (Studi Kasus: Kecamatan Loano, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah)(Program Studi Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Purworejo, 2025-09-15) Indah PuspitasariBencana merupakan salah satu penyebab dampak negatif yang besar dalam beberapa sektor baik dari segi material atau non material. Terdapat peta kerawanan bencana longsor Kabupaten Purworejo, tetapi belum terperinci hingga peta kerawanan kecamatan. Untuk dapat melakukan pemetaan bencana longsor dengan baik maka analisis daerah rawan bencana dengan menggunakan aplikasi Arc – GIS. Aplikasi Arc – GIS digunakan karena fitur lebih lengkap, pengolahan data yang cepat, dan visualisasi peta yang berkualitas. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif (skoring) dan Overlay yang berbasis Arc – GIS. Dalam menganalisis daerah yang berpotensi rawan bencana, dapat dilihat dari beberapa faktor antara lain adalah curah hujan, kemiringan lereng, jenis tanah, dan penggunaan lahan. Untuk memanfaatkan perkembangan teknologi informasi yang dapat memprediksi daerah rawan bencana dengan memvisualisasikan peta bencana berdasarkan kelompok. Peta bencana diharapkan dapat memberikan rekomendasi mitigasi bencana. Hasil dari penelitian ini adalah pemetaan daerah rawan longsor dapat dihitung berdasarkan parameter – parameter yang mempengaruhinya. Kecamatan Loano memiliki 3 kategori rawan bencana yaitu tinggi, sedang dan rendah. Setelah melakukan penelitian didapatkan hasil daerah dengan tingkat kerawanan longsor tinggi di Kecamatan Loano sebesar 43% atau 23 Km2. Daerah dengan tingkat kerawanan longsor yang sedang di Kecamatan Loano sebesar 25% atau 13,56 Km2. Daerah yang memiliki tingkat kerawanan longsor yang rendah di Kecamatan Loano sebesar 32% atau 16,84 Km2. Strategi mitigasi bencana longsor Kecamatan Loano dapat dilakukan dengan cara relokasi pemukiman dan membatasi pembangunan pemukiman di daerah lereng yang rawan bencana longsor, pengendalian tata guna lahan, edukasi terhadap masyarakat, dan pemasangan rambu rawan bencana
- ItemANALISIS DAERAH RAWAN BENCANA LONGSOR MENGGUNAKAN ARC-GIS DALAM UPAYA MITIGASI BENCANA (Studi Kasus: Kecamatan Kaligesing dan Kecamatan Bagelen, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah)(Program Studi Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Purworejo, 2025-08-21) Satria ArandaKabupaten Purworejo merupakan wilayah dengan tingkat kerawanan bencana yang tinggi di Provinsi Jawa Tengah. 2 kecamatan yang menonjol tingkat kerawanannya adalah Kecamatan Kaligesing dan Kecamatan Bagelen yang berada di kawasan perbukitan dan memiliki kemiringan lereng yang curam serta curah hujan yang tinggi. Berdasarkan data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), pada Desember 2024 di Kecamatan Kaligesing tercatat 12 warga terancam akibat kejadian tanah longsor. Sementara itu, di Kecamatan Bagelen, pada November 2022 terjadi beberapa longsor yang menyebabkan kerusakan material di sejumlah dusun. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa wilayah ini membutuhkan pemetaan dan strategi mitigasi yang terarah. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan analisis kerawanan longsor menggunakan metode skoring dan weighted overlay berbasis aplikasi Arc-GIS 10.7.1. Parameter yang digunakan meliputi curah hujan, kemiringan lereng, jenis tanah, dan penggunaan lahan, dengan seluruh data diperoleh dari instansi terkait. Hasil penelitian menunjukkan bahwa di Kecamatan Kaligesing, zona rawan tinggi mencakup 39,87 km² (51,17 %), zona sedang 33,09 km² (42,46%), dan zona rendah 4,97 km² (6,37%) dari total luas wilayah 78,33 km². Sedangkan di Kecamatan Bagelen yang memiliki luas wilayah 63,44 km², zona rawan tinggi meliputi 33,88 km² (54,03%), zona sedang 7,77 km² (12,40%), dan zona rendah 21,06 km² (33,58%). Strategi mitigasi yang diusulkan meliputi penguatan lereng, perbaikan drainase, edukasi masyarakat, pengendalian tata guna lahan, dan pemasangan rambu rawan bencana. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi acuan dalam pengurangan risiko bencana dan kebijakan penanggulangan tanah longsor.
- ItemAnalisis Faktor Keterlambatan Proyek Konstruksi Gedung Di Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kabupaten Purworejo(Program Studi Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Purworejo, 2024-02-22) SUKMA ADI PRATAMAPada dasarnya proyek konstruksi tidak lepas dari kendala yang ada yang dapat menyebabkan terjadinya keterlambatan pada proyek yang sedang berjalan. Pekerjaan yang mengalami masalah dapat menyebabkan keterlambatan dan mengakibatkan kerugian dan berbagai cara dilakukan guna menghindari masalah yang mengakibatkan keterlambatan dan kerugian. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisa faktor-faktor penyebab keterlambatan pekerjaan konstruksi pada proyek pembangunan gedung di Kabupaten Purworejo dan menganalisa korelasi atau hubungan faktor-faktor penyebab keterlambatan proyek konstruksi gedung di Kabupaten Purworejo. Dalam penelitian ini pengolahan data menggunakan analisa Exploratory Factor Analysis (EFA) untuk korelasi atau hubungan faktor-faktor penyebab keterlambatan proyek konstruksi gedung di Kabupaten Purworejo. Satu set kuesioner digunakan untuk mendapatkan data primer yang dibutuhkan. Teknik analisis faktor eksploratori digunakan untuk mengidentifikasi variabel laten yang ada. Kuesioner yang diperoleh dari 40 orang terdiri dari kontraktor, konsultan pengawas dan owner yang terlibat di penelitian ini. Hasil penelitian menjelaskan bahwa lima faktor yang berpengaruh terhadap keterlambatan proyek konstruksi gedung di Kabupaten Purworejo yaitu faktor proses lelang dan kejadian non teknis, perencanaan teknis yang kurang tepat, faktor ketepatan jumlah material yang dikirim, faktor komunikasi dan koordinasi, faktor produktifitas peralatan.
- ItemAnalisis Faktor Keterlambatan Proyek Konstruksi Gedung Di Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kabupaten Purworejo(Program Studi Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Purworejo, 2024-02-22) SUKMA ADI PRATAMAPada dasarnya proyek konstruksi tidak lepas dari kendala yang ada yang dapat menyebabkan terjadinya keterlambatan pada proyek yang sedang berjalan. Pekerjaan yang mengalami masalah dapat menyebabkan keterlambatan dan mengakibatkan kerugian dan berbagai cara dilakukan guna menghindari masalah yang mengakibatkan keterlambatan dan kerugian. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisa faktor-faktor penyebab keterlambatan pekerjaan konstruksi pada proyek pembangunan gedung di Kabupaten Purworejo dan menganalisa korelasi atau hubungan faktor-faktor penyebab keterlambatan proyek konstruksi gedung di Kabupaten Purworejo. Dalam penelitian ini pengolahan data menggunakan analisa Exploratory Factor Analysis (EFA) untuk korelasi atau hubungan faktor-faktor penyebab keterlambatan proyek konstruksi gedung di Kabupaten Purworejo. Satu set kuesioner digunakan untuk mendapatkan data primer yang dibutuhkan. Teknik analisis faktor eksploratori digunakan untuk mengidentifikasi variabel laten yang ada. Kuesioner yang diperoleh dari 40 orang terdiri dari kontraktor, konsultan pengawas dan owner yang terlibat di penelitian ini. Hasil penelitian menjelaskan bahwa lima faktor yang berpengaruh terhadap keterlambatan proyek konstruksi gedung di Kabupaten Purworejo yaitu faktor proses lelang dan kejadian non teknis, perencanaan teknis yang kurang tepat, faktor ketepatan jumlah material yang dikirim, faktor komunikasi dan koordinasi, faktor produktifitas peralatan.
- ItemAnalisis faktor penyebab keterlambatan pembangunan Program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya di Seram Bagian Barat Provinsi Maluku(Program Studi Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Purworejo, 2023-07-31) Refisa Agdan DaffaPenelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan mengevaluasi faktor keterlambatan pembangunan rumah sederhana Program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya di Seram Bagian Barat. Sumber data dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Objek penelitian ini adalah pembangunan rumah sederhana Program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya pada tahun 2022 tahap 3 di Seram Bagian Barat Provinsi Maluku. Teknik pengumpulan data yang digunakan pada penelitiann ini adalah kuesioner, wawancara, dan observasi. Observasi dilakukan pada bulan Agustus sampai Desember dengan mengikuti Program Magang dan Studi Independen Bersertifikat di Maluku. Instrumen penelitian yang digunakan adalah hasil kuesioner yang diberikan kepada responden Balai Pelaksana Penyedia Perumahan Maluku. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan skoring dengan alat bantu berupa program aplikasi computer yaitu SPSS for windows 25.0 dan microsoft excel. Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa: (1) berdasarkan hasil analisis didapatkan 18 indikator keterlambatan yang terjadi pada Program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya di Seram Bagian Barat. (2) Tiga faktor dominan yang menjadi suatu permasalahan keterlambatan pembangunan yaitu keahlian dan jumlah tenaga kerja yang kurang, kurangnya kedisiplinan tenaga kerja, dan terjadi keterlambatan pengiriman material karena akses lokasi. (3) Solusi untuk mengatasi faktor dominan yang menjadi masalah dalam keterlambatan pembangunan yaitu merekrut tenaga kerja dari luar Maluku, melakukan pelatihan secara rinci bagi calon fasilitator lapangan, melakukan pengawasan langsung dari pihak balai perumahan, membuat milestone pekerjaan yang harus dilakukan, dan melakukan gotong royong masyarakat dengan supplier agar material cepat sampai lokasi yang sulit.
- ItemAnalisis Faktor Risiko Pelaksanaan Program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) (Studi Kasus: Desa Bumirejo, Kecamatan Karangawen Kabupaten Demak)”(Program Studi Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Purworejo, 2023-08-24) Yusuf Nur Cahyanto.Rumah adalah suatu kebutuhan dasar manusiayang berfungsi sebagai tempat tinggal,sarana pembinaan keluarga, serta sebagai aset bagi penghuninya. Dikarenakan masih banyaknya masyarakat di Indonesia yang mempunyai rumah yang tidak layak huni, maka dari itu pemerintah melalui Kementerian PUPR menciptakan program yang dinamakan bantuan stimulan perumahan swadaya. Pada pelaksanaan BSPS tentunya masih ada beberapa faktor risiko yang menjadi penghambat jalannya program tersebut. Penelitian ini mempunyai tujuan antara lain: untuk menganalisis apa saja faktor risiko pelaksanaan program BSPS khususnya di Desa Bumirejo, Kecamatan Karangawen, Kabupaten Demak, untuk mengetahui faktor risiko yang paling dominan dalam pelaksanaan program BSPS di Desa Bumirejo, Kecamatan Karangawen, Kabupaten Demak, untuk menemukan solusi yang tepat guna meminimalisir faktor-faktor risiko pada program BSPS selanjutnya. Metode yang digunakan pada penelitian ini yaitu menggunakan metode campuran. Metode ini yaitu kombinasi antara penelitian kuantitatif dan penelitian kualitatif dengan model penelitian concurent triangulation. Model penelitian concurrent triangulation yaitu melakukan pengumpulan data kualitatif dan kuantitatif secara bersama-sama dan dari penelitian itu didapatkan hasil yang sama dan seimbang. Populasi dalam penelitian ini adalah penerima bantuan, tenaga fasilitator lapangan Desa Bumirejo, asisten koordinator kabupaten wilayah Kecamatan Karangawen, serta koodinator kabupaten wilayah Kabupaten Demak yang berjumlah 200 orang yang kemudian diambil sampel 30 dari perwakilan populasi yang tersedia. Berdasarkan hasil penelitian, terdapat 17 faktor risiko yang terjadi pada pelaksanaan BSPS di Desa Bumirejo, Kecamatan Karangawen, Kabupaten Demak yang kemudian dikelompokkan menjadi 5 Kelompok antara lain : bahan material, waktu, SDM, manajemen, dan uang. Hasil analisis data yang diperoleh terdapat 3 faktor risiko yang paling dominan dan berkategori high yaitu dari pelaksanaan program yang bersamaan dengan masa tanam dan panen memiliki nilai risiko 19,00, cuaca yang kurang mendukung memiliki nilai risiko 16,50, serta kurangnya sumber keswadayaan dari penerima bantuan memiliki nilai risiko 16,00.
- ItemAnalisis Faktor-Faktor Keterlambatan Penyelesaian Proyek Konstruksi Jalan Berdasarkan Persepsi Stakeholder(Program Studi Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Purworejo, 2023-08-15) Vindy Rina AuliasariPenelitan ini dilakukan karena adanya kasus keterlambatan pekerjaan dibidang proyek konstruksi. Salah satu proyek yang teridentifikasi keterlambatan pekerjaan adalah pada proyek konstruksi jalan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis mengenai faktor-faktor penyebab keterlambatan pelaksanaan pekerjaan konstruksi jalan sehingga diketahui faktor utama penyebab keterlambatan proyek jalan menurut masing-masing stakeholder. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan cara survey melalui angket atau kuesioner dan wawancara kepada responden. Data yang digunakan merupakan pengisian kuesioner dari 8 kontraktor, 10 konsultan dan 7 owner yang terlibat dalam pengerjaan proyek konstruksi jalan di Kabupaten Purworejo. Pengukuran variabel pada penelitian ini menggunakan skala likert dengan skor 1- 5. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan skoring dengan alat bantu berupa program aplikasi computer yaitu SPSS for window 25.0 dan microsoft excel. Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa: (1) Terdapat 25 indikator keterlambatan yang terjadi pada proyek konstruksi jalan di Kabupaten Purworejo. (2) Faktor dominan yang mempengaruhi keterlambatan proyek konstruksi jalan menurut kontraktor yaitu manajer lapangan yang kurang berpengalaman. Faktor yang dominan yang mempengaruhi keterlambatan proyek konstruksi jalan menurut konsultan yaitu kurangnya ketersediaan tenaga kerja. Faktor dominan yang mempengaruhi keterlambatan proyek konstruksi jalan menurut owner yaitu buruknya pengawasan pekerjaan di proyek. (3) Solusi untuk mengatasi keterlambatan yang terkait dengan manajer lapangan yang kurang berpengalaman yaitu dengan cara pada saat merekruit manajer memberikan pengarahan langsung dan mengadakan pelatihan (training) sehingga dapat melihat keahlian yang dimiliki. Solusi untuk mengatasi keterlambatan yang terkait dengan kurangnya ketersediaan tenaga kerja yaitu dengan merekrut tenaga kerja yang memiliki kualitas dan ketrampilan kerja dengan baik. Solusi untuk keterlambatan terkait dengan buruknya pengawasan pekerjaan di proyek yaitu dengan selalu melakukan komunikasi antar personil apabila terjadi sebuah kendala dan melakukan pengawasan menyeluruh dan memastikan semua berada di dalam kendali pimpinan proyek.