Teknik Sipil
Permanent URI for this collection
Browse
Browsing Teknik Sipil by Title
Now showing 1 - 20 of 239
Results Per Page
Sort Options
- ItemANALISA KEBUTUHAN AIR PADA PETAK TERSIER DAERAH IRIGASI PENUNGKULAN KABUPATEN PURWOREJO DENGAN METODE DRUM(PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PURWOREJO , 2017-10-13) Elin Wahyudi 102510008, Yusuf Priyo Nugroho 102510024Air irigasi berperan penting dalam peningkatan produksi pangan terutama padi. Namun dengan ketersedian air yang semakin terbatas, maka penting untuk melaksanakan tata cara pemberian air irigasi yang lebih efisien. Irigasi adalah suatu usaha memberikan air untuk keperluan pertanian tanaman padi yang dilakukan dengan cara teratur pada petak-petak sawah. Pemberian air dapat dinyatakan efisien bila debit air yang disalurkan melalui sarana irigasi seoptimal mungkin sesuai dengan kebutuhan tanaman padi pada lahan pertanian yang potensial. Efisiensi air didefinisikan sebagai perbandingan antara jumlah kebutuhan air dengan jumlah air yang diberikan. Permasalahan pengelolaan air irigasi akan timbul jika terjadi kekurangan air di petak tersier sawah, penelitian ini dilakukan secara langsung di lapangan dengan menggunakan teknik drum padi dan teknik inflow - outflow di petak tersier sawah. Parameter-parameter yang diamati dalam pengukuran langsung di lapangan adalah debit air irigasi, evapotranspirasi, perkolasi, dan curah hujan efektif. Hasil penelitian ini menunjukan nilai efisiensi petak sawah (Ea) lebih baik daripada nilai efisiensi jaringan irigasi, karena efisiensi rata-rata petak sawah mencapai 85,90%, sedangkan efisiensi jaringan hanya 70%. NIlai efisiensi total dari efisiensi petak sawah dan efisiensi jaringan sebesar 60,13%. Efisiensi irigasi pada petak tersier sawah untuk tanaman padi di Daerah Irigasi Penungkulan diharapkan dapat menjadi masukan kepada pihak-pihak terkait dalam mengambil kebijakan mengenai sistem pemberian air irigasi yang lebih efisien dalam penggunaan air irigasi sehingga membantu mengatasi masalah kekurangan air pada petak tersier sawah.
- ItemANALISA KINERJA BENDUNG BERDASARKAN ASPEK FUNGSI STRUKTUR BANGUNAN ( STUDI KASUS BENDUNG PEKATINGAN )(PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PURWOREJO , 2017-07-21) MUHAMMAD WAHYUDI 122510007Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh: (1) bobot komponen bendung yang dapat digunakan sebagai indikator kinerja bendung berdasarkan kondisi dan keberfungsian bangunannya, (2) menganalisa kinerja bendung berdasarkan kondisi dan keberfungsian bangunannya, (3) menghitung nilai kondisi Bendung Pekatingan saat ini berdasarkan desain penilaian kondisi dan fungsi bangunan bendung. Studi ini mengambil lokasi di Bendung Pekatingan yang terletak di Desa Butuh, Kecamatan Butuh, Kabupaten Purworejo, Provinsi Jawa Tengah. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan Pengamatan langsung si lapangan yang kemudian data diolah. Dari hasil pengolahan data tersebut, kondisi dan keberfungsian bendung Pekatingan dianalisis dan diinterprestasikan. Analisis Data Menggunakan Metode AHP (Analytic Hierarchy Process). Hasil Analisis data Hasil analisa yang dilakukan dari data survei bendung menghasilkan kinerja bendung berdasarkan kondisi kerusakan komponennya yang berupa bobot debit sebesar 9.91%, bobot sedimen sebesar 3.63%, bobot mercu sebesar 12.46%, bobot bangunan pengambilan sebesar 4.15%, bobot bangunan penguras sebesar 1.05%, bobot bangunan pembilas sebesar 1.45%, dan bobot kantong lumpur sebesar 0.38%. Sedangkan untuk hasil analisa kinerja bendung berdasarkan fungsi komponen yaitu berupa bobot debit sebesar 34.58%, bobot sedimen sebesar 8.31%, bobot mercu sebesar 19.26%, bobot bangunan pengambilan sebesar 4.96%, bobot bangunan penguras sebesar 3.54%, bobot bangunan pembilas sebesar 3.93%, dan bobot kantong lumpur sebesar 1.97%. Kondisi komponen kinerja bendung Pekatingan adalah kerusakan komponen pada bendung Pekatingan sebesar 33.02% dan kondisi bendung mengalami RUSAK SEDANG. Fungsi kinerja komponen pada bendung Pekatingan sebesar 76.55% dan keberfungsian bendung dalam kondisi CUKUP.
- ItemANALISA KINERJA SIMPANG BERSINYAL BERDASARKAN MANUAL KAPASITAS JALAN INDONESIA 1997 (Studi Kasus Simpang Lengkong Jl. Tentara Pelajar Kab. Purworejo)(PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PURWOREJO, 2016-03-01) Panji Tejo Buono 112510032Penelitian dilakukan di simpang bersinyal Lengkong Jalan Tentara Pelajar Kabupaten Purworejo karena pada simpang tersebut mempunyai tingkat kepadatan dan keramaian yang cukup besar. Sehubungan dengan hal itu maka perlu di lakukan penelitian khususnya pada simpang bersinyal Lengkong dengan menggunakan standar Manual Kapasitas Jalan Indonesia 1997. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis apakah penggunaan sinyal (traffic light) pada simpang bersinyal Lengkong masih mempunyai kinerja yang baik. Perhitungan analisis dan simulasi yang diterapkan dalam penelitian ini menggunakan metode MKJI 1997. Data primer yang diambil dalam penelitian berupa geometrik jalan, kondisi lingkungan, jarak parkir, volume lalu lintas, dan penggunaan sinyal. Sedangkan data sekunder yang dibutuhkan adalah data jumlah penduduk Kota Purworejo. Penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi Dinas Pekerjaan Umum dan Dinas Perhubungan, dan dapat dijadikan pertimbangan pembangunan atau perencanaan di masa yang akan datang. Dari hasil perhitungan data dapat diketahui bahwa simpang bersinyal Lengkong Jl. Tentara Pelajar masih efektif dalam melayani arus lalu lintas, hal itu dibuktikan dengan hasil perhitungan derajat kejenuhan (Ds) dengan nilai 0.634 untuk seluruh pendekat, yang berarti simpang Lengkong Jl. Tentara Pelajar termasuk dalam tingkat pelayanan B (Pemenhub No:14 Tahun 2006). Dari hasil simulasi didapat pendekat dari arah Kutoarjo (Barat STOR) dapat dijadiakn alternatif dengan nilai-nilai yang lebih kecil, yaitu Ds = 0.604, waktu siklus (c)= 49 detik, waktu hilang (LTI) = 14 detik. Dengan hasil perhitungan simulai tersebut maka dapat menambah kapasitas pada Simpang Lengkong Jl. Tentara Pelajar dan menambah kenyamanan untuk pengguna jalan karena waktu siklus yang lebih pendek.
- ItemANALISA KUALITAS PELAYANAN AIR BERSIH PDAM PURWOREJO (STUDI KASUS INSTALASI PDAM CABANG BENER DESA KEDUNGPUCANG DAN KALIBOTO)(PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PURWOREJO, 2019-03-15) YAENUL MUSTOFA 142510001Tujuan penelitian ini untuk mengetahui faktor-faktor yang mendukung Kualitas Pelayanan air bersih PDAM Perwitasari Purworejo seperti, Bukti langsung (Tangibel), Daya Tanggap (Responsiveness), Kehandalan (Reliability), Jaminan (Assurance), Empati (Empathy), serta untuk menganalisa kualitas pelayanan yang diberikan oleh Perusahaan Daerah Air Minum Tirta Perwitasari Purworejo dalam memenuhi kebutuhan dan harapan pelanggan. Tahapan penelitian ini adalah studi berbagai literatur yang ada untuk menentukan variabel yang akan digunakan. Tahap selanjutnya mendesain kuisoner penelitian kemudian melakukan pengambilan data dengan cara wawancara langsung dan dengan metode random sampling. Data yang diperoleh dari kuisoner dijelaskan melalui analisis deskriptif atau metode survei dan untuk mengetahui pengaruh variabel Tangibel, Responsiveness, Reliability, Assurance dan Empathy terhadap Kualitas Pelayanan digunakan analisis regresi berganda meliputi uji Validitas & Reliabilitas, uji regresi ( uji f & t ). Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa variabel bebas Tangibel (X1), Responsiveness (X2), Reliability (X3), Assurance (X4) dan Empathy (X5) secara simultan dan parsial berpengaruh signifikan dan positif terhadap Kualitas Pelayanan pada PDAM Purworejo di Desa Kedungpucang dan Desa Kaliboto, dimana pengaruh variabel X1 sebesar 0,249, X2 sebesar 0,132, X3 sebesar 0,151, X4 sebesar 0,323, X5 sebesar 0,259. Dari hasil Tabel Persentase juga disimpulkan bahwa rata-rata jawaban pelanggan PDAM di Desa Kedungpucang dan Kaliboto dari kelima variabel tersebut yang terbesar ada pada variabel Kehandalan (Responsiveness) dengan jawaban 81,9% dengan kategori puas
- ItemANALISA KUAT TEKAN BETON GEOPOLIMER ABU SEKAM PADI, KAPUR TOHOR, AKTIVATOR ALKALI DAN SUPERPLASTICIZER(Program Studi Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Purworejo, 2019-04-15) SRI LAKSONO 132510045Pemakaian beton dalam proses pembangunan yang berkelanjutan, terdapat proses produksi semen yang banyak menghasilkan banyak gas karbon dioksida (CO2). Gas karbondioksida yang berkelanjutan dapat memicu terjadinya pemanasan global yang dapat membahayakan peradaban manusia di bumi. Ada beberapa alternatif pembuatan beton tanpa semen untuk mengurangi resiko pemanasan global di antaranya pengembangan riset ikatan geopolimer, Salah satu bahan untuk pembuatan beton geopolimer yaitu Abu Sekam Padi. Dalam penelitian ini akan dilakukan studi tentang kuat tekan beton geopolimer berbahan abu sekam dan kapur tohor, menganalisa berapa proporsi yang tepat dalam penggunaan perbandingan variasi abu sekam padi dengan kapur tohor, dan menganalisa apakah abu sekam padi dan kapur tohor bisa digunakan untuk beton geopolimer. Pada penelitian ini yaitu menggunakan metode eksperimental, dibuat benda uji silinder berbentuk silinder dengan ukuran diameter 75 mm dan tinggi 150 mm. Perbandingan prekursor menggunakan variasi abu sekam padi : kapur tohor yaitu 70 : 30, 80 : 20, 90 : 10 dan 100 : 0. Penggunaan masing- masing variasi berjumlah 9 benda uji dari total 36 buah untuk pengujian kuat tekan 7,14 dan 28 hari. Perbandingan binder : Agregat yaitu menggunakan 1 : 5 dengan prosentase larutan alkali 26 % : prekursor 74 % untuk perbandingan berat dari binder. Perbandingan alkali aktivator NaOH : Na2SiO3 yang digunakan adalah 1 : 2,5. Pemeliharaan benda uji menggunakan curing suhu ruangan di laboratorium. Dari hasil penelitian menunjukan bahwa nilai kuat tekan beton geopolimer tertinggi pada GEO 70 yaitu 3.51 MPa pada umur 14 hari, dan selanjutnya di umur selanjutnya 28 hari mengalami penurunan. Kuat tekan paling tinggi pada variasi GEO 80 = 0.75 MPa, GEO 90 = 0.55 Mpa, GEO 100 = 0.36 MPa juga terdapat pada umur 14 hari, dan selanjutnya di umur 28 hari menurun, kecuali GEO 80 tetap. Kuat tekan beton geopolimer yang dihasilkan dalam penelitian ini termasuk beton sederhana karena kurang dari 10 MPa
- ItemANALISA KUAT TEKAN BETON GEOPOLIMER DENGAN BAHAN ALTERNATIF ABU SEKAM PADI DAN KAPUR PADAM(FAKULTAS TEKNIK PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PURWOREJO, 2017-08-23) Teguh Utomo 132510016Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai kuat tekan beton geopolimer dengan variasi abu sekam padi dan kapur padam. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimental (percobaan langsung di laboratorium), dengan menentukan faktor air baru dan komposisi campuran. Perawatan beton dilakukan dengan suhu ruang. dalam penelitian ini menggunakan variasi abu sekam padi:kapur padam, 70:30, 80:20, 90:10, 100:0. Faktor air baru didapat 0,85 dari berat binder. Perbandingan NaOH : Na2SiO3 yang digunakan adalah 1:2,5. Benda uji silinder yang digunakan berdimeter 85 mm, tinggi 170, dan sebanyak 36 benda uji. Hasil nilai kuat tekan rata-rata beton geopolimer pada variasi 70:30 (Abu Sekam Padi : Kapur Padam), pada umur 7,14, dan 28 hari dengan hasil berturutturut adalah 3,644 MPa, 3,924 MPa, dan 2,579 MPa, Variasi 80:20 (Abu Sekam Padi : Kapur Padam) adalah 4,205 MPa, 3,924 MPa, dan 3,364 Mpa, variasi 90:10 (Abu Sekam Padi : Kapur Padam) adalah 3,644 MPa, 3,644 MPa, dan 3,308 MPa, variasi 100:0 (Abu Sekam Padi : Kapur Padam) adalah 3,084 MPa, 3,364 MPa, dan 2,411 MPa. Kuat tekan optimum yang diperoleh dalam penelitian adalah pada variasi abu sekam padi:kapur padam (80:20) yaitu sebesar 4,205 MPa. Berdasarkan jenis beton menurut kuat tekannya, maka beton geopolimer berbahan abu sekam padi dan kapur padam termasuk ke dalam beton sederhana yaitu beton untuk bagian-bagian non-struktur.
- ItemANALISA KUAT TEKAN MORTAR GEOPOLIMER BERBAHAN ABU SEKAM PADI DAN KAPUR PADAM(PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PURWOREJO , 2017-08-23) Yulis Setyani 122510036Penelitian ini bertujuan untuk: (1) menganalisa pengaruh penggunaan abu sekam padi dan kapur padam terhadap kuat tekan mortar geopolimer, (2) menganalisa proporsi optimum penggunaan abu sekam padi dan kapur untuk mortar geopolimer, dan (3) menganalisa apakah abu sekam padi dan kapur dapat digunakan untuk mortar geopolimer. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental yaitu percobaan di laboratorium. Benda uji kubus berukuran 5 x 5 x 5 cm dengan variasi proporsi abu sekam padi:kapur padam 100:0, 90:10, 80:20, dan 70:30 sebanyak 36 benda uji. Perbandingan binder:pasir yang digunakan adalah 1:3 dengan penambahan larutan alkali sebesar 26% dari berat prekursor. Perbandingan NaOH:Na2SiO3 yang digunakan adalah 1:2,5. Curing yang dipakai dengan cara didiamkan dalam suhu ruangan. Pengujian dilakukan pada umur 7, 14, dan 28 hari. Dari hasil penelitian yang dilakukan, didapat kuat tekan mortar geopolimer umur 28 hari variasi abu sekam padi:kapur padam 70:30 sebesar 22,31 kg/cm2, variasi abu sekam padi:kapur padam 80:20 sebesar 15,58 kg/cm2, variasi abu sekam padi:kapur padam 90:10 sebesar 15,20 kg/cm2, dan variasi abu sekam padi:kapur padam 100:0 sebesar 8,30 kg/cm2. Kuat tekan optimum mortar geopolimer pada variasi abu sekam padi:kapur padam 70:30 pada umur 28 hari yaitu 22,31 kg/cm2. Dari hasil uji kuat tekan menunjukan bahwa pengurangan abu sekam padi dan penambahan kapur padam dapat meningkatkan kuat tekan mortar. Berdasarkan tipe mortar, mortar geopolimer berbahan abu sekam padi dan kapur padam termasuk ke dalam tipe mortar K yaitu mortar dengan kuat tekan rendah.
- ItemANALISA PENERAPAN PENGENDALIAN WAKTU TERHADAP KETERLAMBATAN PROYEK DENGAN PRECEDENCE DIAGRAM METHOD (Studi Kasus Penyelesaian Pembangunan Gelanggang Remaja Kecamatan Tanah Abang)(Program Studi Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Purworejo, 2015-08-18) Dimas Suryo Pramono 102510005Penelitian ini bertujuan untuk : (1) Mengaplikasikan penyusunan presedence diagram method dengan software Microsoft project 2010 seperti apa pada proyek terlambat dan bagaimana jalur kritisnya, dan(2) Dengan precedence diagram method bagaimana cara mengendalikan waktu proyek pada proyek yang terlambat. Proyek mengalami keterlambatan karena adanya faktor pekerjaan yang mengalami penundaan. Dengan adanya masalah ini maka penting adanya sebuah pengendalian waktu. Dengan precedence diagram method akan mengendalikan waktu pekerjaan. Analisa pertama menganalisa tanggal mulai dan selesai pekerjaan serta durasi waktu uraian pekerjaan pada progress. Setelah itu mengisi kolom predecessor untuk mengetahuin konstrain penghubung antar pekerjaan. Lalu didapatkan data early start, early finish, latest start, dan latest finish. Selain itu juga didapatkan pekerjaan jalur kritis, dan didapat 41 pekerjaan jalur kritis. Setelah itu mengendalikan waktu pekerjaan dengan mengubah predecessor pada 13 pekerjaan terlambat dan menambah jam kerja lembur pada 12 pekerjaan terlambat.
- ItemANALISA PENGEMBANGAN JARINGAN IRIGASI BENDUNG PEKATINGAN(PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PURWOREJO, 2016-08-21) INDRA GUNAWAN 122510004Penelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya permasalahan yang mengacu pada Pengembangan Jaringan irigasi dalam hal pengaturan distribusi air Daerah Bendung Pekatingan. Penelitian ini bertujuan untuk : (1) untuk mengevaluasi kemampuan debit yang tersedia dilokasi penelitian, sehingga pengembangan jaringan irigasi dapat dilakuakan. (2) ubtuk menganalisa faktor K atau faktor penyedia air relatif (PAR). (3) membuat model pengembangan pembagian air DI Pekatingan. Studi ini mengambil lokasi di Daerah Irigasi Bendung Pekatingan yang terletak di Desa Binangun, Kecamatan Butuh, Kabupaten Purworejo, Provinsi Jawa Tengah. Teknik pengupulan data dilakukan dengan cara observasi yang kemudian data diolah. Dari hasil perhitungan tersebut, ketersediaan sumber daya air yang ada dianaisis dan diinterprestasikan. Hasil dari data ketersediaan air periode setengah bulanan, maka besarnya debit andalan 80 % yang terjadi cukup bervariasi, dimana debit terbesar terjadi pada bulan Mei Periode II yaitu sebesar 17,64 m3/dt, dan debit terkecil terjadi pada bulan Oktober Periode I dan II yaitu sebesar 0,00 m3/dt. Dari hasil antara debit andalan dan kebutuhan air terhadap luas areal yang dapat dikembangkan menjadi areal irigasi, yaitu kondisi pada Musim Tanam I mengalami surplus, pada Musim Tanam II mengalami defisit pada bulan Maret periode I sebesar -1,1 m3/dt, dan bulan April periode I sebesar -1,13 m3/dt. Pada Musim Tanam III juga mengalami defisit pada bulan Agustus periode I sebesar - 0,68 m/dt, bulan September periode I sebesar -0,448 m3/dt, dan bulan Oktober periode I sebesar -0,21 m3/dt. Berdasarkan analisis faktor K didapat nilai rata-rata faktor K dari 3 (tiga) musim tanam yaitu sebesar 5,72 untuk musim tanam I (MT-I), 4,563 untuk musim tanam II (MT-II), dan 4,18 untuk musim tanam III (MT-III). Sehingga pola pemberian air untuk musim tanam I (MT-I), musim tanam II(MT-II), musim tanam III (MT-III) adalah menggunakan pola irigasi menerus Dari perhitungan Neraca Air terjadi pengembangan pada Musim Tanam I (MT-I) kondisi airnya surplus atau berlebih sehingga dapat dikembangkan untuk mengairi DI dan sekitarnya.
- ItemAnalisa Pengurangan Risiko Banjir Menggunakan Simulasi Sumur Resapan di Sub DAS Gesing(Program Studi Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Purworejo, 2019-02-27) Dwi Anggraeni 142510011Sub DAS Gesing dengan luas 45,70 km2 merupakan salah satu wilayah yang memiliki potensi banjir limpasan yang tinggi. Banjir limpasan yang terjadi pada Sub DAS Gesing disebabkan karena meluapnya air sungai dan kurangnya luas daerah resapan air akibat perubahan tata guna lahan yang tidak terencana dan terpola dengan baik serta tidak berwawasan lingkungan sehingga mengakibatkan bertambahnya volume debit banjir. Hal itu akan berakibat pada meningkatnya limpasan air permukaan dan memperkecil infiltrasi curah hujan. Perubahan yang mungkin akan timbul adalah meningkatnya debit banjir dan jumlah sedimen yang dibawa. Metode penelitian menggunakan metode kuantitatif dengan pengolahan data sekunder berupa data stasiun hujan dan data curah hujan harian maksimum selama 5 tahun yang dianalisa kedalam metode Hidrograf Satuan Sintetik dan Simulasi HEC-HMS. Perhitungan intensitas hujan jam-jaman menggunakan metode Modified Mononobe dan perhitungan distribusi hujan menggunakan metode Alternating Block Method (ABM). Hasil penelitian menggunakan metode Mononobe dan metode ABM ditambah sumur resapan untuk Sub DAS Gesing pada kala ulang 5, 10, 20 dan 50 tahun mengalami 11,96 %, 11,49 %, 10,96 % dan 10,30 %. Dalam perhitungan jumlah kebutuhan dan efektivitas sumur resapan tiap luasan atap menggunakan 2 metode yakni metode Sunjoto dan metode SNI 03-2453-2002 memiliki perbedaan yang cukup signifikan yaitu perhitungan jumlah sumur resapan metode SNI 03-2453-2002 adalah 2 sampai 6 kali perhitungan metode Sunjoto sedangkan perhitungan efektivitas antara kedua metode yang memiliki efektivitas paling tinggi adalah metode Sunjoto
- ItemANALISA PRODUKTIVITAS PENGGUNAAN ALAT BERAT PADA PEKERJAAN TANAH PEMBUATAN BADAN JALAN KERETA API Studi Kasus Pembuatan Badan Jalan Kereta Api Lintas Kroya - Kutoarjo Antara Sruweng - Soka di Kebumen(PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PURWOREJO , 2017-07-25) YOGI SETYO TRI WIBOWO 102510022Jalan Kereta Api Lintas Kroya – Kutoarjo antara Sruweng – Soka merupakan jalur ganda kereta api, diharapkan dengan adanya pembangunan proyek jalur ganda kereta, akan mengurangi kepadatan lalu lintas dan memperlacar perekonomian antar Provinsi di Indonesia. Waktu pelaksanaan pekerjaan tanah menggunakan setengahnya waktu total dari time schedule addendum 1 (satu), time schedule addendum 2 (dua), dan time schedule addendum 3 (tiga) yaitu 37 hari kalender untuk tanah dipindahkan, sedangkan tanah yang dipadatkan yaitu 77 hari kalender. Pelaksanaan pekerjaan pembuatan badan jalan kereta api di dominasi penggunaan alat berat. Pemilihan dan penentuan alat yang tepat agar peralatan dapat beroprasi secara efektif. Penelitian ini menggunakan teori produktivitas alat berat, penentu jenis dan jumlah alat sesuai dengan medan lokasi, jenis tanah yang akan digali dan dipadatkan. Komposisi alat berat yang dipakai akan mempengaruhi jumlah alat dan waktu pekerjaan alat berat yang optimum pada pelaksanaan pekerjaan tanah tubuh jalan kereta api sepanjang 2,5 kilo meter pada Km.441+900 s/d Km.444+400, jam kerja alat berat mengunakan jam kerja normal yaitu 8 jam, metode perhitungan yang dilakukan dengan cara trial and error. Dari trial perhitungan produksi alat berat dengan mengambil dua alternatif. Hasil perolehan jumlah alat dan waktu optimum yang diperlukan untuk penyelesaian pekerjaan tanah didapatkan alternatif pertama yaitu pada tanah dipindahkan 4 unit excavator, 2 unit bulldozer, dan 6 unit dump truck waktu penyelesaiannya 28 hari/224 jam kerja, sedangkan tanah dipadatkan 4 unit bulldozer, 2 unit vibrator roller, dan 7 unit dump truck waktu penyelesaiannya 63 hari/504 jam kerja. Sehingga pekerjaan mengalami percepatan 10 hari (26,32 %) dari pekerjaan tanah dipindahkan dan tanah dipadatkan 14 hari (18,18 %) dari pekerjaan yang di lapangan.
- ItemANALISA PRODUKTIVITAS TOWER CRANE TOWER CRANE PRODUCTIVITY ANALYSIS Studi Kasus Proyek Pembangunan Gedung Hotel Pesonna Yogyakarta(Program Studi Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Purworejo, 2015-01-18) IDRIS PARMONO 102510009Proyek pembangunan gedung Hotel Pesonna di Yogyakarta menggunakan alat pemindah material tower crane. Pada penggunaan alat tersebut berpotensi mengalami perbedaan hasil antara analisa perencanaan awal dengan analisa realisasi di lapangan. Dengan hal tersebut, maka dilakukan penganalisaan untuk mengetahui besarnya selisih dan penyebab terjadinya selisih hasil antara analisa perencanaan awal dengan analisa relisasi di lapangan. Pada penelitian analisa produktivitas tower crane ini metode penelitian yang di gunakan adalah metode eksplanatif. Metode eksplanatif merupakan tipe penelitian yang bertitik pada pertanyaan dasar “mengapa”. Kita tidak puas bila hanya mengetahui apa yang terjadi dan bagaimana terjadinya, tetapi ingin juga mengetahui mengapa peristiwa itu terjadi. Dengan kata lain, kita ingin menjelaskan terjadinya suatu peristiwa. Metode eksplanatif digunakan karena tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana terjadinya perbedaan waktu penyelesaian pekerjaan antara analisa perencanaan awal dengan analisa realisasi di lapangan, berdasarkan sampel yang didapat dari lapangan serta mengapa hal tersebut bisa terjadi Pada analisa perencanaan awal diperoleh waktu siklus sebesar 18808,17 menit sedangkan pada analisa realisasi di lapangan diperoleh waktu siklus sebesar 25234,64 menit sehingga terdapat selisih waktu siklus penyelesaian pekerjaan tower crane sebesar 6426,47 menit. Perbedaan hasil analisa perencanaan awal dengan analisa realisasi di lapangan disebabkan beberapa faktor, yaitu: 1. Adanya selisih kecepatan pergerakan tower crane, baik pergerakan horizontal, vertikal maupun rotasi antara analisa perencanaan awal dengan analisa di lapangan. 2. Adanya selisih waktu ikat dan lepas antara analisa perencanaan awal dengan analisa di lapangan
- ItemAnalisis Desain Tebal Perkerasan Lentur Dengan MDPJ 2024 Dan Metode Mekanistik-Empirik Menggunakan Software KENPAVE (Studi Kasus: Jalan Gintungan - Gebang, Kabupaten Purworejo)(Program Studi Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Purworejo, 2026-08-26) Muhammad Shalahuddin 222510050Ruas Jalan Gintungan–Gebang merupakan jalur alternatif Purworejo– Wonosobo. Kondisi jalan ini pada beberapa segmen mengalami kerusakan berupa jalan berlubang, retak, dan pelepasan butir yang menyebabkan menurunnya kenyamanan dan keamanan pengguna jalan. Oleh karena itu, diperlukan analisis struktur perkerasan untuk mengetahui tebal perkerasan berdasarkan Manual Desain Perkerasan Jalan (MDPJ) 2024 serta kinerja struktur perkerasan terhadap beban lalu lintas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tebal perkerasan lentur berdasarkan MDPJ 2024, mengetahui nilai regangan, serta mengetahui umur pelayanan desain existing, desain MDPJ 2024, dan desain alternatif. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan mekanistik-empirik. Data yang digunakan berupa data primer yang meliputi data Lalu Lintas Harian Rata-rata (LHR) dan data California Bearing Ratio (CBR) hasil pengujian Dynamic Cone Penetrometer (DCP), serta data struktur perkerasan existing berdasarkan pengujian PIT. Data tersebut kemudian dianalisis menggunakan software KENPAVE untuk memprediksi umur pelayanan terhadap kerusakan fatigue cracking, rutting, dan permanent deformation. Hasil dari penelitian ini berdasarkan MDPJ 2024 diperoleh struktur perkerasan berupa AC-WC dengan tebal 6 cm, LFA Kelas A dengan tebal 20 cm, LFA Kelas B dengan tebal 15 cm, serta lapis perbaikan tanah dasar berupa timbunan pilihan dengan tebal 30 cm dengan umur layanan paling lama yaitu 34,24 tahun dengan kerusakan berupa rutting. Dalam perkerasan eksisting diperoleh struktur perkerasan berupa AC-BC 5 cm, LFA Kelas A dengan tebal 15 cm, LFA Kelas B dengan tebal 15 cm dengan umur layanan paling pendek yaitu sekitar 9,5 bulan dengan kerusakan berupa permanent deformation. Untuk desain alternatif diperoleh struktur perkerasan berupa HRS-AC 3 cm, HRS-BC 3,5 cm, LFA Kelas A dengan tebal 12 cm, LFA Kelas B dengan tebal 15 cm dengan umur layanan paling cukup yaitu sekitar 20 tahun dengan kerusakan pertama permanent deformation.
- ItemAnalisis Angkutan Sedimen Bendung Kalisemo Kecamatan Loano, Kabupaten Purworejo(Program Studi Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Purworejo, 2024-08-21) Alim GunawanSedimentasi pada Bendung Kalisemo mengalami penumpukan yang sangat banyak permasalahan tersebut mempengaruhi kinerja Bendung Kalisemo. Banyaknya sedimen pada Bendung Kalisemo tersebut menyebabkan pendangkalan pada bendung yang berdampak pada pengoperasian bendung khususnya dalam penyediaan air baik untuk irigasi, Pengendalian banjir dan lain sebagainya. Sedimen yang mengendap pada hulu bendung berpotensi masuk melalui pintu intake ke saluran primer sehingga dapat mengurangi kapasitas saluran. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk menganalisis karakteristik dan volume sedimen dasar (bed load) Bendung Kalisemo, serta mendapatkan alternatif penanganan penumpukan sedimentasi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pengukuran dan pengambilan langsung semple di lapangan serta pengujian di laboratorium. Metode perhitungan angkutan sedimen menggunakan metode Meyer Peter Muller dan Einstein. Sampel sedimen dasar diambil 3 titik yaitu titik 1(kanan), titik 2 (tengah), titik 3 (kiri). Penelitian dilakukan pengumpulan data secara langsung dengan pengukuran langsung, pengamatan langsung, serta pengujian sampel pada Laboratorium. Hasil analisis karakteristik angkutan sedimen bendung kalisemo untuk jenis butiran pada penampang bendung butiran terbesar termasuk kedalam jenis kerikil berkwarsa tertahan pada saringan no. 19 mm dan butiran terkecil adalah pasir sangat halus karna tertahan pada saringan no.0,075 mm. Hasil analisis volume angkutan sedimen dasar (bed load) dengan metode Meyer Peter Muller adalah 8,7114 m³/hari dan untuk metode Einstein sebesar 6,6097 m³/hari. Alternatif penanganan dengan melakukan pengurasan rutin saat debit sungai pada bendung mengalami banjir,dan pengerukan setelah sedimen mencapai puncak elevasi mercu bendung, diperkirakan dalam jangka 2 tahun. Pengerukan dilakukan dengan menggunakan alat berat dengan kapasitas kecil.
- ItemAnalisis Clash Detection Terhadap Waktu dan Biaya pada Proyek Pembangunan Tol Cileunyi-Sumedang-Dawuan (Cisumdawu) paket 5A STA 39+050 s/d 46+500(Program Studi Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Purworejo, 2026-08-22) Hariwida Wahyu Nugroho 212510091Pembangunan proyek konstruksi memiliki potensi terjadinya ketidaksesuaian desain yang dapat menimbulkan pekerjaan ulang serta berdampak terhadap waktu dan biaya pelaksanaan. Penerapan Building Information Modeling (BIM) melalui metode clash detection dapat digunakan untuk mengidentifikasi konflik antar elemen desain sebelum pekerjaan dilaksanakan di lapangan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis clash detection pada pekerjaan Underpass Bridge 1 STA 43+190 pada Proyek Jalan Tol Cileunyi-Sumedang-Dawuan (Cisumdawu) Seksi 5A, menganalisis perbedaan volume akibat revisi desain, serta mengetahui deviasi biaya yang ditimbulkan. Penelitian menggunakan metode studi kasus dengan data sekunder berupa gambar Detail Engineering Design (DED), Bill of Quantity (BoQ), spesifikasi teknis material, dan schedule pelaksanaan proyek. Pemodelan dilakukan menggunakan Autodesk Revit, kemudian dilakukan proses superposisi menggunakan Autodesk InfraWorks untuk mengidentifikasi konflik antara model jalan dan struktur. Selanjutnya dilakukan redesain berdasarkan hasil clash detection, perbandingan Quantity Take Off (QTO), serta analisis biaya menggunakan Microsoft Excel. Hasil penelitian menunjukkan adanya ketidaksesuaian center line alignment antara desain jalan dan struktur serta pergeseran struktur jembatan sebesar 11,02 m. Ketidaksesuaian tersebut mempengaruhi beberapa elemen pekerjaan, antara lain wall, wing wall, plat injak, slab lantai, dan concrete Barrier. Hasil analisis waktu menunjukkan waktu perbaikan apabila konflik diketahui saat pelaksanaan di lapangan sebesar 164 hari, sedangkan melalui analisis desain berbasis BIM sebesar 22,60 jam atau 2,51 hari, sehingga diperoleh deviasi waktu sebesar 161,49 hari. Analisis revisi desain juga menunjukkan perubahan volume dan biaya, dengan deviasi biaya terbesar pada pekerjaan wall A2 R UPB1A sebesar Rp48.232.351,63 atau 23,32%, sedangkan persentase deviasi biaya tertinggi terjadi pada pekerjaan wing wall A2 R UPB1A sebesar 59,05%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan BIM melalui clash detection mampu mengidentifikasi ketidaksesuaian desain lebih awal, meningkatkan akurasi perhitungan volume dan biaya, serta membantu meminimalkan risiko pekerjaan ulang, keterlambatan, dan pembengkakan biaya konstruksi
- ItemANALISIS CURAH HUJAN PEMODELAN DERET WAKTU DAS LUK ULO KABUPATEN KEBUMEN(PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PURWOREJO, 2024-02-05) ARUM FEBRIADIPenelitian ini dilakukan di tiga stasiun hujan pada Daerah Aliran Sungai Luk Ulo yaitu Stasiun Kaligending, Karanggayam dan Alian. Luas wilayah DAS 675,53 km2 yang terletak di Provinsi Jawa Tengah. Secara administrasi meliputi tiga kabupaten, yaitu Kabupaten Kebumen, Kabupaten Banjarnegara, dan Kabupaten Wonosobo. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis data curah hujan, menguji kesesuaian peramalan, dan membandingkan hasil uji dengan nilai aktual. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode Single Moving Average kemudian dilakukan perhitungan prediksi curah hujan mendatang pada DAS Luk Ulo sehingga akan diketahui nilai terkecil dan besarnya puncak dari curah hujan serta akan diketahui nilai perbandingannya dengan memperhatikan perhitungan kesalahan prediksi peramalan. Hasil uji konsistensi curah hujan dari tiga stasiun memenuhi syarat dan dapat dikatakan konsisten. Perhitungan peramalan curah hujan dengan metode Single Moving Average pada stasiun Kaligending menghasilkan nilai MAPE 39,75%, stasiun Karanggayam 35,46%, stasiun Alian 34,69%. Analisis kesesuaian peramalan dengan menghitung rata-rata MAPE sebesar 36,63%, nilai tersebut berkisar di 20-50% maka dikatakan kesesuaian peramalan memiliki kemampuan peramalan yang layak. Perbandingan nilai uji dengan nilai aktual menghasilkan nilai error paling tinggi yaitu 562,33 mm, serta nilai error terendah dengan nilai 13,00 mm, serta selisih rata-rata tiga stasiun yaitu 141,63 mm
- ItemANALISIS CURAH HUJAN PEMODELAN DERET WAKTU DAS LUK ULO KABUPATEN KEBUMEN(Program Studi Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Purworejo, 2024-02-05) ARUM FEBRIADIPenelitian ini dilakukan di tiga stasiun hujan pada Daerah Aliran Sungai Luk Ulo yaitu Stasiun Kaligending, Karanggayam dan Alian. Luas wilayah DAS 675,53 km2 yang terletak di Provinsi Jawa Tengah. Secara administrasi meliputi tiga kabupaten, yaitu Kabupaten Kebumen, Kabupaten Banjarnegara, dan Kabupaten Wonosobo. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis data curah hujan, menguji kesesuaian peramalan, dan membandingkan hasil uji dengan nilai aktual. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode Single Moving Average kemudian dilakukan perhitungan prediksi curah hujan mendatang pada DAS Luk Ulo sehingga akan diketahui nilai terkecil dan besarnya puncak dari curah hujan serta akan diketahui nilai perbandingannya dengan memperhatikan perhitungan kesalahan prediksi peramalan. Hasil uji konsistensi curah hujan dari tiga stasiun memenuhi syarat dan dapat dikatakan konsisten. Perhitungan peramalan curah hujan dengan metode Single Moving Average pada stasiun Kaligending menghasilkan nilai MAPE 39,75%, stasiun Karanggayam 35,46%, stasiun Alian 34,69%. Analisis kesesuaian peramalan dengan menghitung rata-rata MAPE sebesar 36,63%, nilai tersebut berkisar di 20-50% maka dikatakan kesesuaian peramalan memiliki kemampuan peramalan yang layak. Perbandingan nilai uji dengan nilai aktual menghasilkan nilai error paling tinggi yaitu 562,33 mm, serta nilai error terendah dengan nilai 13,00 mm, serta selisih rata-rata tiga stasiun yaitu 141,63 mm.
- ItemANALISIS DAERAH RAWAN BENCANA LONGSOR MENGGUNAKAN ARC – GIS DALAM UPAYA MITIGASI BENCANA (Studi Kasus: Kecamatan Loano, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah)(Program Studi Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Purworejo, 2025-09-15) Indah PuspitasariBencana merupakan salah satu penyebab dampak negatif yang besar dalam beberapa sektor baik dari segi material atau non material. Terdapat peta kerawanan bencana longsor Kabupaten Purworejo, tetapi belum terperinci hingga peta kerawanan kecamatan. Untuk dapat melakukan pemetaan bencana longsor dengan baik maka analisis daerah rawan bencana dengan menggunakan aplikasi Arc – GIS. Aplikasi Arc – GIS digunakan karena fitur lebih lengkap, pengolahan data yang cepat, dan visualisasi peta yang berkualitas. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif (skoring) dan Overlay yang berbasis Arc – GIS. Dalam menganalisis daerah yang berpotensi rawan bencana, dapat dilihat dari beberapa faktor antara lain adalah curah hujan, kemiringan lereng, jenis tanah, dan penggunaan lahan. Untuk memanfaatkan perkembangan teknologi informasi yang dapat memprediksi daerah rawan bencana dengan memvisualisasikan peta bencana berdasarkan kelompok. Peta bencana diharapkan dapat memberikan rekomendasi mitigasi bencana. Hasil dari penelitian ini adalah pemetaan daerah rawan longsor dapat dihitung berdasarkan parameter – parameter yang mempengaruhinya. Kecamatan Loano memiliki 3 kategori rawan bencana yaitu tinggi, sedang dan rendah. Setelah melakukan penelitian didapatkan hasil daerah dengan tingkat kerawanan longsor tinggi di Kecamatan Loano sebesar 43% atau 23 Km2. Daerah dengan tingkat kerawanan longsor yang sedang di Kecamatan Loano sebesar 25% atau 13,56 Km2. Daerah yang memiliki tingkat kerawanan longsor yang rendah di Kecamatan Loano sebesar 32% atau 16,84 Km2. Strategi mitigasi bencana longsor Kecamatan Loano dapat dilakukan dengan cara relokasi pemukiman dan membatasi pembangunan pemukiman di daerah lereng yang rawan bencana longsor, pengendalian tata guna lahan, edukasi terhadap masyarakat, dan pemasangan rambu rawan bencana
- ItemANALISIS DAERAH RAWAN BENCANA LONGSOR MENGGUNAKAN ARC-GIS DALAM UPAYA MITIGASI BENCANA (Studi Kasus: Kecamatan Kaligesing dan Kecamatan Bagelen, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah)(Program Studi Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Purworejo, 2025-08-21) Satria ArandaKabupaten Purworejo merupakan wilayah dengan tingkat kerawanan bencana yang tinggi di Provinsi Jawa Tengah. 2 kecamatan yang menonjol tingkat kerawanannya adalah Kecamatan Kaligesing dan Kecamatan Bagelen yang berada di kawasan perbukitan dan memiliki kemiringan lereng yang curam serta curah hujan yang tinggi. Berdasarkan data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), pada Desember 2024 di Kecamatan Kaligesing tercatat 12 warga terancam akibat kejadian tanah longsor. Sementara itu, di Kecamatan Bagelen, pada November 2022 terjadi beberapa longsor yang menyebabkan kerusakan material di sejumlah dusun. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa wilayah ini membutuhkan pemetaan dan strategi mitigasi yang terarah. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan analisis kerawanan longsor menggunakan metode skoring dan weighted overlay berbasis aplikasi Arc-GIS 10.7.1. Parameter yang digunakan meliputi curah hujan, kemiringan lereng, jenis tanah, dan penggunaan lahan, dengan seluruh data diperoleh dari instansi terkait. Hasil penelitian menunjukkan bahwa di Kecamatan Kaligesing, zona rawan tinggi mencakup 39,87 km² (51,17 %), zona sedang 33,09 km² (42,46%), dan zona rendah 4,97 km² (6,37%) dari total luas wilayah 78,33 km². Sedangkan di Kecamatan Bagelen yang memiliki luas wilayah 63,44 km², zona rawan tinggi meliputi 33,88 km² (54,03%), zona sedang 7,77 km² (12,40%), dan zona rendah 21,06 km² (33,58%). Strategi mitigasi yang diusulkan meliputi penguatan lereng, perbaikan drainase, edukasi masyarakat, pengendalian tata guna lahan, dan pemasangan rambu rawan bencana. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi acuan dalam pengurangan risiko bencana dan kebijakan penanggulangan tanah longsor.
- ItemAnalisis Efisiensi Penyaluran Air pada Saluran Irigasi (Studi Kasus: Daerah Irigasi Tegalduren Kecamatan Purworejo)(Program Studi Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Purworejo, 2026-08-27) Muhammad Iqbal Fahroni 222510026Penyaluran air irigasi yang efisien diperlukan untuk memenuhi kebutuhan air tanaman dan mengurangi kehilangan air selama proses distribusi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat efisiensi penyaluran air, kondisi ketersediaan dan kebutuhan air, serta neraca air pada Daerah Irigasi Tegalduren, Kecamatan Purworejo. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dan observasi lapangan. Data primer diperoleh melalui pengamatan kondisi fisik saluran dan pengukuran debit menggunakan current meter pada titik hulu, Segmen 1, Segmen 2, dan hilir. Data sekunder meliputi data curah hujan, klimatologi, luas area irigasi, dan pola tanam. Data curah hujan dan klimatologi tahun 2016–2025 digunakan dalam analisis hidrologi. Ketersediaan air dihitung menggunakan metode NRECA dan debit andalan Q80, sedangkan kebutuhan air dihitung berdasarkan evapotranspirasi, koefisien tanaman, curah hujan efektif, perkolasi, dan pola tanam. Hasil penelitian menunjukkan efisiensi penyaluran air sebesar 72,94% pada Segmen 1, 92,88% pada Segmen 2, dan 87,54% pada Segmen 3, dengan efisiensi total dari hulu sampai hilir sebesar 59,31%. Debit ketersediaan Q80 tertinggi sebesar 6,09 m³/detik pada Januari Periode I, sedangkan debit ketersediaan terendah sebesar 0,16 liter/detik pada November Periode I. Debit kebutuhan tertinggi sebesar 120,65 liter/detik terjadi pada Maret Periode I. Hasil neraca air menunjukkan bahwa MT I dan MT II mengalami surplus pada seluruh periode yang memiliki kebutuhan air, sedangkan MT III mengalami defisit pada Agustus Periode I sampai Oktober Periode II. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi penyaluran dan ketersediaan air perlu diperhatikan dalam pengaturan distribusi air pada jaringan irigasi Tegalduren.